Arry Susanto,ST

Arry Susanto,ST

Jumat, 24 September 2010

Jalan Provinsi di Tanah Kampung – Sungaipenuh Terendam

SUNGAIPENUH, JG: Jalan Provinsi Jambi yang meghubungkan Desa Tanah Kampung-Kota Sungaipenuh hingga kini masih terendam banjir. Akibatnya arus lalu lintas ruas jalan tersbeut lumpuh total alias tidak bisa dilalui.
Menurut warga sekitarnya, kondisi tersebut sudah terjadi hampir satu bulan terakhir, sejak terjadinya hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh belakangan ini. Diperkirakan panjangnya jalan provinsi yang terendam itu kurang lebih 100 meter dengan ketinggian air mencapai satu meter, mulai dari jembatan ketiga dari arah Tanah Kampung menuju Kota Sungaipenuh, semuanya terendam banjir.
Kondisi seperti ini sudah sering terjadi terutama saat musim hujan seperti sekarang ini. Terendamnya jalan tersebut diakibatkan anak sungai yang berada di sekitar jalan tersebut yakni Sungai Bungkal tidak mampu menampung debit air yang terlalu banyak sehingga meluap dan megngenangi badan jalan. Salah seorang Warga Tanah Kampung, Bur mengatakan bahwa sekarang ini masyarakat Tanah Kampung dan sekitarnya sangat terganggu lantaran jalan menuju pasar Sungaipenuh menjadi lebih jauh lagi.
Untuk menuju pasar Sungaipenuh, warga terpaksa memutarkan arah melewati jalan Tanjung Rawang dan jalan Kumun Debai.
Mantan Kepala Desa dua periode Tanah Kampung itu berharap pemerintah daerah untuk lebih fokus memperhatikan keluhan masyarakat. Apalagi masalah jalan sangat penting.
Bukan hanya sekedar jalan saja yang terendam, tapi juga sawah masyarakat di sekitar jembatan Tanah Kampung juga terendam dan terancam gagal panen.
Pemerintah Kota Sungaipenuh melalui Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum H Jamaludin ST mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan normalisasi Sungai Bungkal, Sungai yang selama ini kerap dikeluhkan warga lantaran arusnya tidak lancar. Diharapkan dengan normalisasi Sungai Bungkal maka arus Sungai akan lebih lancar dan tidak lagi tergenang dan mengenangi sawah serta badan jalan


Kebanggan Masyarakat Kerinci Telah Tiada


Minggu, 16 Desember 1999, merupakan Tahun yang tak telupakan bagi masyarakat Kerinci, karena pada hari tersebut diselenggarakn Festival Seni dan Budaya masyarakat Kerinci alias Festival Masyrakat Peduli Danau Kerinci ( FMPDK ) untuk yang pertama kali yang di selenggarakan di Danau Kerinci. FMPDK ini merupakan buah hasil pemikiran dari Bpk. Drs H. Fauzi Siin ( Eks Bupati Kerinci ) dkk. Festival tersebut merupakan ajang memperkenalkan adat,seni,budaya,kerajinan tangan,masakan, yang asli dari pemikiran dan tangan-tangan rakyat kerinci kepada wisatawan.
Banyak para wisatawan Lokal dan Asing menyaksikan acara akbar tersebut, semua masayarakat kerinci berkumpul di pinggiranDananu Kerinci Nan Elok. FMPDK diselenggarakan setiap tahunnya hingga 2008. Tapi, kebanggan tersebut telah hilang.
Setelah Bpk. Fauzi berhenti menjadi Bupati, FMPDK tidak lagi di selenggarakan, entah apa yang menjadi alasan tersebut. Semua masyarakat Kab. Kerinci sangat merasa sedih, karena kebanggan yang selama ini mereka banggakan sebelumnya berhenti begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Saya, sebagai Uhang Asli Kincai ( kerinci ) sangat berharap kepada bpk. H.Murasman,MM yang terpilih menjadi Bupati Kerinci, berharap agar bisa melanjutkan Festival akbar tersebut. Apabila festival tersebut tidak di laksanakan pada tahun 1999, mungkin orang tidak akan mengenal tentang Seni dan Budaya Kerinci.
TIDAK HANYA SATU JALAN MENUJU KABUPATEN KERINCI

Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, adalah sebuah keindahan. Keindahan panorama alam yang memesona, kaya tradisi dan budaya. Kabupaten paling barat di Provinsi Jambi ini terletak di punggung Pegunungan Bukit Barisan yang selalu menarik untuk dikunjungi, diteliti, dipelajari, dan diabadikan.

Para pemburu foto tidak akan puas-puasnya mengabadikan Kerinci yang merupakan enklave Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dengan ketinggian terendah 725 meter dan tertinggi 3.805 meter di atas permukaan laut (dpl).

Ada puluhan obyek wisata yang menarik untuk didatangi dan diabadikan. Danau Kerinci dengan luas 4.200 hektar yang penuh pesona. Gunung Kerinci menjulang tinggi, merupakan gunung api tertinggi di Sumatera dengan puncaknya 3.805 meter dpl menjadi simbol keindahan Kerinci. Kemudian juga ada perkebunan kayu manis (Cassiavera atau
Cinamoun burmanni).

Sedangkan untuk obyek wisata budaya, ada Masjid Agung Pondok Tinggi yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat pada tahun 1874 dengan dinding bambu dan atap ijuk. Tahun 1890 dinding diganti dengan kayu berukir, kemudian atap diganti seng.

Batu Berukir atau Batu Lesung yang terletak di Desa Muak, Kecamatan Gunung Raya. Tari Rangguk, tari spesifik Kerinci yang populer dan telah berulang kali dipertunjukkan di negara-negara anggota ASEAN.

Pengunjung yang datang ke Kerinci bisa pula melihat masjid yang dijadikan monumen gempa di Desa Kota Iman, Kecamatan Danau Kerinci. Masjid Kota Iman tersebut hingga kini tetap dibiarkan sebagaimana bentuknya setelah digoyang gempa bumi-sebagian dinding hancur dan retak, bagian atas rusak berat, tetapi masih berdiri tegak.

Arah jalan
Kata tidak hanya satu jalan ke Kerinci secara harfiah diartikan memang ada tiga jalur jalan darat yang bisa ditempuh untuk mencapai Kabupaten Kerinci. Pertama dari Kota Jambi-Bangko (ibu kota Kabupaten Merangin)-Muaraemat-Sanggaran Agung-Sungaipenuh 465 km. Dua jalur dari Padang, Sumatera Barat, Padang-Sungaipenuh (Kerinci) melalui Pesisir Selatan 277 km dan Padang-Sungaipenuh melalui Muaralabuh 225 km.

Kabupaten Kerinci dengan topografi bergelombang dan berbukit membentang dari Gunung Kerinci di utara hingga Gunung Raya di selatan. Sedangkan dari segi hunian, penduduk setempat sering menyebutnya sebagai Kerinci dari Siulak di mudik (utara) sampai ke Tamiai di hilir (selatan).

Di tengah lembah Kerinci dari Siulak di mudik mengalir Batang Merao yang bermuara di Danau Kerinci, lalu airnya keluar melalui Batang Merangin meliuk-liuk di kawasan pegunungan, masuk ke Batang Tembesi di Sarolangun, dan selanjutnya bergabung dengan Sungai Batanghari di Kabupaten Batanghari, kemudian ke pantai timur Sumatera.

Di samping melalui jalan darat, Kerinci bisa dicapai melalui udara. Bandara Depati Parbo, Kabupaten Kerinci, dengan panjang landasan pacu 1.000 meter sudah bisa didarati pesawat kecil, 25-30 penumpang. Tahun ini panjang landasan pacu ditambah 250 meter lagi agar bisa didarati pesawat sejenis Foker-27 dengan 50 penumpang. Tahun 2006 ditambah 250 m sehingga landasan seluruhnya menjadi 1.500 m.

Sejak lima tahun lalu hubungan darat dari Kota Jambi ke Kerinci terganggu akibat jalan Kota Jambi-Bangko-Sungaipenuh mengalami kerusakan yang cukup parah, terutama ruas Muaratembesi-Sarolangun 104 km dan Bangko-Muaraemat-Sanggaran Agung-Sungaipenuh 165 km. Akibatnya, waktu tempuh dengan bus umum menjadi 12- 13 jam, dengan kendaraan travel (minibus) 10 jam.

Meski jalan rusak berat, bus dan kendaraan travel tetap melalui jalur ini dan hampir selalu dipadati penumpang. Pengunjung yang ingin ke Kerinci, khususnya dari Kota Jambi, disarankan untuk memesan tiket bus atau travel satu atau dua hari sebelum hari keberangkatan.

Pengunjung meningkat
Tidak akan berhenti (berkurang) orang datang ke Kerinci. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana daya tarik Kerinci yang kuat bagi para pengunjung. Keterisolasian secara fisik dari ibu kota provinsi, Kota Jambi, tidak membuat orang enggan datang ke Kerinci.

Kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke kabupaten di puncak Pulau Sumatera atau Puncak Andalas itu tiap tahun terus meningkat. Sebagian besar wisatawan datang melalui Sumatera Barat karena jalan Sungaipenuh-Padang via Muara Labuh mulus dengan waktu tempuh enam jam.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kerinci Anizar mengungkapkan kepada Kompas akhir Juli 2005 bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kerinci tahun 2004 mencapai 350.935 orang, di antaranya 2.807 wisatawan asing (Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Malaysia, dan Singapura).

"Tahun 2005 kunjungan wisatawan ke Kerinci diprediksi 378.079 orang atau naik 15 persen dibanding 2004 dengan rincian 2.953 wisman, sisanya wisatawan nusantara," ungkapnya.

Tahun 2006 kunjungan wisatawan ditargetkan naik lagi sekitar 20 persen dibanding tahun 2005 atau sebanyak 394.246 orang dengan 3.495 wisatawan mancanegara. Sebagai perbandingan, tahun 2000 hanya ada 268.208 wisatawan (1.788 wisman) berkunjung ke Kerinci, tahun 2001 naik menjadi 291.155 orang (2.690 orang), tahun 2002 316.763 orang (2.897 orang), dan tahun 2003 menjadi 330.739 orang (2.703).

Kerinci telah dikenal sejak awal abad ke-19 atau 1800-an oleh kolonial Eropa. Artinya, sejak saat itu Kerinci telah dikenal masyarakat internasional. Kerinci dilukiskan sebagai daerah yang memiliki kekayaan dan keindahan alam luar biasa.

Masyarakat tinggal di berbagai desa dan berada di bawah pengaturan tokoh adat. Kekayaan hutan yang berlimpah merupakan potensi yang luar biasa. Saat itu hasil yang diperoleh dari kekayaan hutan diperuntukkan membeli barang yang tidak bisa dihasilkan
masyarakat setempat, seperti besi.

Lahan berupa dataran tinggi dan sedang, iklim yang baik dan cocok untuk pertanian, padi tumbuh subur, menjadi salah satu andalan bagi daerah ini. Orang Kerinci asli merupakan penduduk yang paling dominan di daerah ini.

Tahun 1800-an kelompok etnis seperti Minangkabau dan China datang dan menetap. Kemudian pada era kolonialis Belanda tahun 1930-an datang kelompok etnis Jawa yang dipekerjakan pada perkebunan teh di Kayu Aro.

Kawasan konservasi
Kabupaten Kerinci dengan penduduk sekitar 365.000 jiwa memiliki luas 420.000 hektar, 215.000 hektar atau sekitar 51,2 persen merupakan kawasan konservasi TNKS yang harus dilestarikan. Lainnya, sawah 17.279 hektar, ladang 31.873 hektar, tegal (kebun) 73.104 hektar, hutan rakyat 1.740 hektar, lahan penggembalaan dan padang rumput 28.025 hektar, lahan telantar 11.089 hektar. Sisanya rawa, kolam, dan sebagainya.

Sebagai enklave dan pusat pengelolaan TNKS, Kabupaten Kerinci memiliki arti yang sangat strategis. Kelebihan dan keuntungan Kerinci adalah karena daerahnya dikelilingi TNKS. Sebagai kawasan konservasi, TNKS memiliki keanekaragaman hayati hutan hujan tropis tinggi, hidrologi dan daya tarik TNKS berada di Kabupaten Kerinci.

Di kawasan hutan konservasi TNKS terdapat 139 jenis burung, 36 jenis mamalia, 10 jenis reptil, 6 jenis amfibi, dan delapan jenis primata. Dari semua jenis fauna itu terdapat beberapa jenis yang dilindungi dari kepunahan, seperti badak sumatera (Dicerorhinus
sumatrensis), kambing hutan (Copricornis sumatrensis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis).

Ada berbagai jenis flora yang keseluruhannya lebih dari 4.000 spesies. Di antaranya pinus mercusii strain Kerinci, kayu pacet (Harpullia arborea) yang memiliki warna sangat menarik. Bunga raflesia (Raflesia arnoldi), dan bunga bangkai (Amorphophalus
titanum) yang merupakan bunga tertinggi di dunia.

TNKS ditetapkan 1.375.934 hektar, memanjang hampir 350 km dengan lebar sekitar 50 km dari barat laut ke tenggara meliputi empat provinsi, yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumsel.

"Kerinci dikenal masyarakat internasional sebagai daerah yang memiliki kekayaan dan keindahan alam luar biasa."


MBAH KUSNO, PELESTARI GUNUNG KERINCI


Bila Gunung Merapi di Yogyakarta punya Mbah Maridjan sebagai juru kunci, Gunung Kerinci di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat punya Mbah Kusno.

Gunung Kerinci sedang mengeluarkan awan putih tipis ke arah timur laut pagi awal Juni lalu. Dari depan rumahnya di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Mbah Kusno menatap puncak gunung.

Di kaki gunung, ribuan hektar tanaman teh terhampar hijau indah seperti beludru. Perkebunan sayur dan hamparan pohon kayu manis (Cassiavera) dengan daun muda merah membuat kaki gunung semakin menawan.

"Kalau Gunung Kerinci mengeluarkan asap, itu sehat. Mungkin aliran magmanya tersumbat batu, jadi gunung mengeluarkan semacam gas panas. Gunung Kerinci belum meletus dalam waktu dekat," kata Mbah Kusno dengan wajah tenang.

Gunung berapi pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut itu sempat menyemburkan abu putih ke Solok Selatan, Sumatera Barat, awal Mei lalu. Direktorat Vulkanologi Geologi dan Mitigasi Bencana Kayu Aro mencatat, Kerinci mengeluarkan awan putih setinggi ratusan meter dan frekuensi gempanya meningkat. Gunung itu aktif, tetapi normal.

Penjelasan Mbah Kusno yang tidak bertentangan dengan kesimpulan Direktorat Vulkanologi dipegang masyarakat dan petani Kersik Tuo. Dengan tenang mereka menanam berbagai jenis sayuran di areal perkebunan di kaki gunung
.
Lebih dari itu, petani juga mengikuti saran Mbah Kusno, melestarikan lingkungan dengan menanam berbagai jenis pohon berbunga di pekarangan dan lereng Kerinci yang bibitnya berasal dari setek pohon-pohon di kebun Kusno. "Saya tidak rugi membagi bibit tanaman berbunga, seperti kelengkeng, avokad, jeruk, atau anggrek. Kalau tanaman itu tumbuh dan berbunga, saya bisa titip lebah saya," kata Kusno.

Kusno memiliki 60 kotak lebah di pekarangan penuh bunga seluas 1.600 meter persegi. Setiap bulan, dia memanen sekitar 30 kilogram madu yang harganya Rp 80.000 per kg.

"Saya bisa panen madu dan punya penghasilan sekitar Rp 2,4 juta per bulan, sama dengan menanam kentang di dua hektar lahan, itu pun harga jualnya turun naik. Jadi, sebenarnya petani tak perlu merambah hutan untuk bercocok tanam," katanya.

Kusno juga memelopori penghijauan dengan tanaman keras, terutama yang buahnya bisa dinikmati warga, seperti durian, suren, petai, avokad, kemiri, atau aren, yang bibitnya sebagian besar berasal dari Dinas Kehutanan dan Konservasi Kabupaten Kerinci. Kakek itu memang sudah menjadi kader penghijauan sejak tahun 1985.

Kusno terlibat dalam beberapa program besar konservasi di Taman Nasional Kerinci Seblat, terutama di kawasan lereng Kerinci, antara lain pada tahun1987, dari membagi bibit hingga memeriksa hasil penanaman.

"Tak semua bibit tumbuh baik, bahkan ada yang mati karena kurang perawatan. Tetapi, bibit yang tersisa tumbuh jadi pohon besar sampai sekarang. Penghijauan butuh kesabaran dan perjuangan tiada henti," kata kakek dari 50 cucu dan 20 cicit itu.

Ritual sedekah bumi dan surti atau berdoa bersama di Gunung Kerinci yang dipelopori Kusno sejak sekitar 30 tahun lalu juga menarik perhatian warga. Kedua ritual itu berisi syukuran dan doa bersama dengan memotong kerbau pada awal bulan Sura dalam kalender Jawa. Seluruh biaya, yang bisa mencapai Rp 15 juta, ditanggung Kusno dengan sedikit sumbangan warga.

Hingga kini, Kusno masih rutin naik gunung untuk menegur perambah nakal. Jika perlu, dia menggalang perjuangan bersama warga setempat.Hijrah

Ayah Kusno, Raden Sumangun, abdi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang hijrah ke Kerinci untuk membuka perkebunan teh yang dirintis Belanda tahun 1911. Saat hamil, istri Sumangun dititipkan di rumah keluarga di kawasan Tamansari, Yogyakarta, sampai melahirkan bayi Kusno tahun 1919.

Kusno kecil tinggal di dekat lingkungan keraton dan saat remaja gemar bertapa di sejumlah puncak gunung di Jawa. Bersama abdi dalem dan masyarakat, Kusno juga kerap menghadap Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII (1921-1939).

Dalam salah satu pertemuan, HB VIII menitahkan Kusno menyusul ayahnya ikut menjagaGunung Kerinci. Tahun 1939 Kusno benar-benar hijrah dan tinggal di kawasan perkebunan teh di Kersik Tuo.

Mulanya dia hanya mengawasi Gunung Kerinci demi keselamatan ribuan masyarakat Jawa di sekitar situ. Lama-kelamaan, Kusno yang rutin bersemadi sambil berpuasa hingga belasan hari di Gunung Ayam, salah satu dataran di puncak Kerinci, untuk menjaga kedekatan dengan Kerinci melestarikan lingkungan gunung itu untuk kepentingan semua orang dari berbagai etnis.

Berkat komitmennya itu, dia menerima sejumlah penghargaan, antara lain kader konservasi alam dari Menteri Kehutanan RI tahun 1997, penggiat konservasi alam dari Gubernur Jambi dan Bupati Kerinci, serta penghargaan untuk ketekunan menanam pohon berbunga dan peternakan lebah madu dari Dinas Kehutanan dan Konservasi Kabupaten Kerinci.

"Petani, warga desa, pejabat, dan semua orang punya kepentingan pada lestarinya hutan di Gunung Kerinci. Kalau meninggal, semua orang di sini juga akan dikubur di tanah Kerinci. Jadi, kenapa tak menghormati dan melestarikan Kerinci?" tanya Kusno.


JANGAN MATI DULU SEBELUM KE KERINCI

PANORAMA alam Kabupaten Kerinci yang terletak 425 kilometer di barat Kota Jambi adalah karunia Tuhan yang tiada terhingga. Daerah ini memiliki puluhan obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

KERINCI kaya dengan keanekaragaman hayati, flora, dan fauna. Namun, bukan itu saja yang membuat Kerinci patut dikunjungi oleh para wisatawan. Kabupaten ini memiliki keindahan budaya dan tradisi yang melembaga, peninggalan sejarah, seni tari, lagu, dan barang kerajinan.

Karena kekayaannya itu, Kerinci ibarat "sekepal tanah surga yang dicampakkan ke Bumi". Maka tak heran jika kemudian muncul ungkapan, "jangan mati dulu sebelum ke Kerinci".

Membicarakan keindahan panorama alam di kabupaten paling barat di Provinsi Jambi ini seakan tidak akan pernah habis. Kerinci dengan luas wilayah 420.000 hektar, sekitar 51,2 persen atau 215.000 hektar di antaranya merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Sisanya, 205.000 hektar (48,8 persen), merupakan kawasan peruntukan. Keindahan alam Kerinci dengan TNKS ibarat sekeping mata uang dengan dua sisi, tidak bisa dipisahkan.

Kabupaten Kerinci merupakan enklave dataran tinggi terbesar di dunia, dikelilingi oleh TNKS. Udaranya sejuk, rata- rata per tahun minimum 17 derajat celcius, dan maksimum 27 derajat celcius. Berada pada ketinggian 700-2.000 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan titik tertinggi puncak Gunung Kerinci 3.805 meter dpl.

Pemerintah Kabupaten Kerinci sejak lima tahun terakhir terus bergiat mempromosikan keindahan alamnya sebagai obyek wisata ke tingkat nasional maupun internasional. Di daerah ini tersedia wisata alam, agrowisata, wisata budaya, dan sejarah.

Sekitar 70 persen obyek wisata di Provinsi Jambi berada di Kabupaten Kerinci dan relatif berdekatan sehingga mudah dikunjungi. Satu bentuk promosi yang dilakukan adalah digelarnya Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK), yang tahun ini merupakan yang keempat kalinya dilaksanakan.

FMPDK terbukti mengundang perhatian luar biasa besar, bukan hanya dari masyarakat Kabupaten Kerinci, tetapi juga wisatawan domestik dan mancanegara. Tentu saja tidak ketinggalan masyarakat asal Kerinci yang tinggal di luar Kerinci, termasuk di luar negeri, seperti di Singapura dan Malaysia. Upacara pembukaan, 6 Juli lalu, sedikitnya dihadiri 55.000 pengunjung.

Festival ini juga menampilkan acara unik, yaitu pacu anjing yang dilaksanakan di Lapangan Merdeka Sungaipenuh.

Sekitar 100 anjing adu cepat mengejar anak babi. Sekali putaran, 10 anjing berikut dengan nomor pesertanya dilepas serentak untuk mengejar seekor anak babi hutan yang diikat pada jarak sekitar 75 meter.


SEBUAH kabupaten dengan penduduk 357.450 orang bisa melaksanakan sebuah festival budaya yang bisa dikategorikan sebagai event nasional di bidang kebudayaan dan pariwisata patut diacungi jempol. Tinggal selangkah lagi, yaitu publikasi dan promosi, untuk dapat dikategorikan sebagai festival bertaraf internasional.

Ruslan (52) dan keluarga, penduduk Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, misalnya, mengaku berangkat dari rumahnya yang terletak sekitar 60 km sebelah utara Danau Kerinci setelah shalat subuh. "Kami bawa nasi dan carter kendaraan. Apakah hari ini ada pertunjukan lukah gilo (lukah gila)?" tanyanya.

Lukah gilo adalah kesenian masyarakat Kerinci yang dimainkan beberapa orang dalam suasana gembira. Lukah gilo merupakan permainan yang menarik untuk diikuti, dan mengandung unsur magis.

Permainan menggunakan lukah (alat tangkap ikan) yang setelah diberi mantra menjadi liar, bergerak sendiri, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Orang yang mengadakan pertunjukan ini seolah tidak sanggup menghentikan gerakan lukah. Dalam permainan ini, penonton bisa mencoba memegang dan mengendalikan lukah.

Turis asal Belanda, Katy (29) dan pasangannya yang terkagum-kagum dan sibuk mengambil foto berbagai acara FMPDK mengaku sudah berada di Kerinci sejak dua hari sebelum FMPDK IV dibuka. Pengunjung mancanegara lainnya, Mark (45) asal Jerman, yang sudah sepekan di Kerinci mengaku kagum dengan keindahan alam dan budaya daerah itu. Hampir setiap hotel di kota Sungaipenuh ditemukan turis mancanegara, umumnya dari negara-negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, dan Perancis.


Pembukaan FMPDK IV ditandai dengan pemukulan beduk yang dihiasi ornamen budaya masyarakat Kerinci oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais, didampingi Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin, dan Bupati Kerinci Fauzi Siin.

Sebelum festival dibuka, dilakukan pawai budaya dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci, melintasi panggung kehormatan. Setiap kontingen kecamatan menampilkan ragam corak atraksi budaya dan kesenian, lengkap dengan pakaian dan atribut masing-masing. "FMPDK sudah melekat di hati masyarakat Kerinci dan sekaligus merupakan kesempatan untuk memperkokoh silaturahmi, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan," ujar Amir Syam, staf Bagian Infokom Pemkab Kerinci.

BAGAIMANA mencapai Kabupaten Kerinci? Kerinci bisa dicapai melalui empat jalur jalan darat. Pertama, jalur kota Jambi-Sarolangun-Bangko- Sungaipenuh (420 km) dengan waktu tempuh 10-12 jam. Di musim hujan, waktu perjalanan bisa menjadi 12-14 jam.

Kedua, dari Padang ke Sungaipenuh melalui Muaralabuh (180 km), dengan waktu tempuh empat hingga enam jam. Ruas jalan ini relatif baik, dan merupakan ruas jalan yang paling banyak digunakan.

Ketiga, Padang-Sungaipenuh lewat Painan, Pesisir Selatan (277 km) dengan waktu tempuh lima sampai tujuh jam. Terakhir dari Bengkulu-Sungaipenuh melalui Bengkulu Utara (420 km) dengan waktu tempuh 10 jam.

Melewati semua ruas jalan ini tersedia angkutan umum yang cukup banyak, baik bus maupun kendaraan travel. Ongkos naik bus Jambi-Sungaipenuh Rp 40.000 per penumpang, dan mobil travel Rp 55.000 per penumpang. Juga tersedia kendaraan carteran. Meskipun terdapat kerusakan di banyak tempat, semua ruas jalan ini bisa ditempuh dengan semua jenis kendaraan. Dari segi keamanan, kawasan ini cukup aman,
baik siang maupun malam.

Rumah makan dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tersedia pada setiap jarak 60 km, kecuali di ruas Bangko-Sungaipenuh, SPBU hanya ada di Bangko (Kabupaten Merangin) dan Sungaipenuh, Kerinci.

Sejak awal Juli 2003, Kabupaten Kerinci dapat dicapai dengan pesawat udara dari Jambi. Penerbangan Kerinci Air dengan pesawat kecil melayani rute Bandara Sulthan Thaha (Jambi)-Bandara Depati Parbo (Kerinci) setiap hari, bahkan dua hingga tiga penerbangan sehari.

Hal ini dimungkinkan setelah adanya perbaikan dan peningkatan lapangan parkir pesawat, landasan pacu, ruang tunggu, dan fasilitas lainya di Bandara Depati Parbo Kerinci. "Saat ini panjang landasan pacu Bandara Depati Parbo baru 750 meter. Rencananya tahun ini bisa ditambah 500 meter lagi menjadi 1.250 meter sehingga bisa didarati pesawat CN-235 dan Fokker dengan 35-60 penumpang," kata Fauzi.


Jalan raya dari Kota Jambi-Sungaipenuh pada ruas Muaratembesi-Sarolangun (104 km) kini dalam kondisi rusak berat. Ruas Bangko-Sungaipenuh (160 km), di beberapa lokasi rawan longsor dan badan jalan amblas. Ruas ini yang sebagian besar berada di Pegunungan Bukit Barisan, badan jalan sempit dengan bukit terjal di satu sisi dan
jurang yang dalam di sisi yang lain.

Banyak tikungan, tanjakan, dan turunan tajam sehingga sopir harus ekstra hati-hati, dan kendaraan tidak bisa dipacu lebih dari 60 km per jam.


MENGEMBANGKAN pariwisata Provinsi Jambi, khususnya Kabupaten Kerinci, tentu tidak cukup dengan FMPDK dan hanya bermodalkan keindahan alam, keramahtamahan penduduk, keunikan budaya, sejarah, seni tari, dan lagu yang rancak.

Pariwisata memerlukan sarana dan prasarana pendukung serta melibatkan semua pihak. Mulai dari sarana transportasi, biro perjalanan, keamanan, pemandu wisata, hotel, restoran, bank, hingga sarana komunikasi.

Untuk menunjang pariwisata di Kabupaten Kerinci, di Kota Sungaipenuh tersedia delapan hotel dengan 300 kamar lebih. Sedangkan di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, dekat dengan berbagai obyek wisata, ada enam home stay dan satu mes milik PT Perkebunan Nusantara VI yang bisa disewa. 


Pariwisata Jambi. DARI GUNUNG KERINCI HINGGA BERBAK


GUNUNG Kerinci adalah puncak tertinggi di Sumatera dan merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia dengan tinggi 3.805 meter dari permukaan laut (dpl). Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Cekungan kawahnya dari sisi ke sisi berukuran 600 x 100 meter persegi dengan daerah lava aktif yang berwarna hijau kekuning-kuningan 120 x 100 meter persegi.

Puncak gunung ini sangat sering tertutup kabut sehingga agak sulit dilihat dari kejauhan. Suhu udara di daerah puncak berkisar antara 5-10 derajat celcius, bahkan dapat mencapai di bawah 0 derajat celsius pada musim kemarau.

Untuk mencapai puncak Gunung Kerinci dari Desa Kersik Tuo dengan waktu tempuh 10-12 jam telah ada jalur pendakian berupa jalan setapak, dilengkapi papan keterangan dan interpretasi di beberapa lokasi. Desa Kersik Tuo berada sekitar 49 kilometer sebelah utara ibu kota Kabupaten Kerinci, Sungai Penuh. Waktu tempuh dari Sungai Penuh dengan kendaraan umum sekitar satu jam. Kegiatan yang umum dilakukan di gunung ini adalah mendaki gunung dan berkemah, pengamatan tumbuhan, satwa dan fenomena alam di sepanjang jalan setapak.

Kabupaten Kerinci memang sangat kaya dengan obyek wisata alam. Selain Gunung Kerinci di kabupaten paling barat Provinsi Jambi itu terdapat sekurangnya empat danau, yaitu Kerinci, Gunung Tujuh, Belibis, dan Lingkat. Danau Gunung Tujuh adalah danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau, berada pada ketinggian 1.996 meter dpl dan merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Panjang danau 4.500 meter, lebar 3.000 meter dikelilingi tujuh gunung dengan puncak tertinggi 2.732 meter dpl.

Kompleks Danau Gunung Tujuh di Desa Pelompek, dapat dengan mudah dicapai dari Sungai Penuh dengan kendaraan umum selama satu jam. Di desa ini terdapat kantor Resor TNKS Pesisir Bukit. Danau Gunung Tujuh berjarak sekitar tujuh kilometer dari kantor, dapat dicapai dengan jalan kaki mendaki menyusuri jalan setapak yang ada selama tiga jam.

Ada pula Rawa Ladeh Panjang, rawa seluas 150 hektar ini merupakan lahan basah yang unik dan menarik, karena merupakan rawa gambut tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 1.950 dpl. Obyek menarik lainnya, Bukit Tapan, sebelumnya merupakan cagar alam untuk perlindungan tipe ekosistem khas setempat. Di kawasan ini ditemukan
tegakan murni Pinus Kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci).
***

SEKITAR 450 kilometer sebelah timur Gunung Kerinci, di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, terdapat taman nasional yang lain, yaitu Taman Nasional Berbak (TNB). Berbak adalah nama anak Sungai Batanghari yang menuju ke muara di pantai timur Sumatera. Berbak adalah juga nama sebuah delta yang diapit dua sungai, yaitu Sungai
Batanghari dan Sungai Berbak.

TNB ini, semula berstatus suaka marga satwa yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Governement Besluit) Nomor 18 tanggal 29 Oktober 1935 yang diumumkan dalam Staatsblad Van Nederlandsch India Nomor 521 dengan luas 190.000 hektar. Kemudian dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 285/KPTS-II/1992, kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional dengan luas 162.700 hektar.

Di tingkat internasional, berdasarkan Keppres Nomor 48 Tahun 1991 tanggal 19 Oktober 1991, Berbak ditetapkan dalam Undang-Undang RAMSAR. Yaitu undang-undang internasional yang melindungi lahan basar untuk menjamin pelestariannya, guna kepentingan internasional.

Pantai yang memiliki bakau dan berlumpur menyediakan makanan bagi berbagai jenis burung migran yang datang dari utara, Siberia, dan Cina menyelamatkan diri dari musim dingin antara Oktober hingga Januari setiap tahun. Jenis burung migran itu adalah, gegajahan (Numenius phaephus), Charadrius mongulus, Chadradrius leschennaulti,
blekek Asia (Caridris canutus), trinil Asia (Numenius madagascariensis), Xenus cinerus, dan beberapa jenis lainnya.

Keanekaragaman burung di TNB membuat taman nasional ini penting bagi internasional. Secara total telah diketahui terdapat 257 jenis burung (hampir setengah dari jumlah yang ada di Pulau Sumatera). Di antaranya terdapat jenis burung yang dilindungi, yaitu bebek hutan sayap putih lebih dikenal dengan nama mentok rimba (Cairina scutulata), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), dan seluruh burung raja udang yang ada di Sumatera (Alcedinidae spp). Ada pula bangau hitam (Ciconia stoemii), yang merupakan salah satu jenis bangau yang sangat langka di dunia serta sembilan dari sepuluh jenis burung enggang yang ada di Sumatera (Bucerotidae).

TNB merupakan tempat pelestarian keanekaragaman tumbuhan jenis palem terkenal dan paling banyak di Indonesia. Tidak kurang 27 jenis palem ditemukan di kawasan ini dan tercatat sepuluh jenis pandan. Jenis palem yang termasuk tanaman hias langka, adalah palem jenis daun payung (Johannesteijsmannia altrifrons). Di TNB juga ditemukan tanaman yang baru diketahui keberadaannya di Indonesia, yaitu lepidona kingii (Lorantaceae), berbunga besar berwarna merah ungu.

Potensi pariwisata yang menarik di TNB adalah berperahu menyusuri Sungai Air Hitam Dalam dan Air Hitam Laut untuk menikmati suasana keheningan hutan yang diselingi suara-suara binatang. Menyaksikan berbagai jenis burung dan monyet yang berada di kanan dan kiri sungai. Bermalam di pondok-pondok taman nasional di dalam hutan rawa primer dan siang hari berjalan ke dalam hutan melalui jalan setapak mempelajari ekosistem rawa pantai. Bird Watching, mengamati burung-burung dari sungai, pantai atau hutan dengan menggunakan teropong.

Berbeda dengan TNKS yang telah memperoleh publikasi luas, punya infrastruktur dan sudah sering dikunjungi oleh wisatawan, TNB masih sangat ketinggalan. Hingga kini belum ada jalan raya ke pinggir TNB, kecuali melalui anak sungai dengan perahu setelah menyusuri Sungai Batanghari atau dari pantai timur.

Meskipun punya potensi pariwisata luar biasa, tidak terlalu jauh dari Kota Jambi, hanya 100-150 kilometer, namun TNB sangat minim publikasi. Publikasi TNB yang cukup gencar adalah kegiatan perambahan, pencurian kayu, dan penebangan liar di kawasan konservasi itu. Pelaku perambahan itu sudah menghancurkan sekitar 30 persen
kawasan konservasi lahan basar itu.

OBYEK wisata lainnya adalah Kebun Raya Bukit Sari (KRBS). Kebun raya ini dirancang sebagai museum hidup dengan koleksi terlengkap dan sekaligus upaya konservasi tanaman tropis Sumatera dan Indonesia, bahkan mungkin Indonesia. Merupakan hamparan hutan sekunder seluas 300 hektar yang meliputi dua wilayah, yaitu Kabupaten Tebo 90 hektar dan Kabupaten Batanghari 210 hektar. Keistimewaan KRBS adalah, terdapatnya vegetasi asli yang digunakan sebagai zona inti yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit.

Kehadiran kebun raya ini berawal dari keinginan Bupati Bungotebo, Drs H Abdulmuthalib HS tahun 1987 agar dibentuk Taman Hutan Raya (THR) guna mempertahankan satu kawasan hutan primer di pinggir jalan. Waktu itu Bupati Thalib merasa cemas, anak cucu orang Jambi nantinya tidak mengetahui lagi, seperti apa hutan di kiri kanan jalan Jambi-Muarabungo dulunya. Alasannya, karena hampir di seluruh kiri
dan kanan jalan nasional dan jalan provinsi, hutan yang ada dibuka untuk dijadikan areal perkebunan, permukiman penduduk, dan ladang.

Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1997 Gubernur Jambi Drs H Abdurrachman Sayoeti mengusulkan THR Bukit Sari itu menjadi Hutan Wisata kepada Menteri Kehutanan. Kemudian, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Kebun Raya Bogor, lokasi tersebut dikembangkan dan sejak Februari 1998 menjadi Kebun Raya Bukit Sari. KRBS ini berada di pinggir jalan raya Jambi - Muarabungo, sekitar 130 km sebelah barat Kota Jambi.

KRBS merupakan hutan sekunder, mempunyai vegetasi yang dalam keadaan baik. Pohon tertinggi mencapai 50-60 meter, diameter 60-70 sentimeter. Ada ratusan jenis pohon di kebun raya itu, antara lain, plajau (Pentaspadon montleyi), tenggeris (Koompassia malaccensis), meranti (Shorea spp), jelutung (Dyera costulata), kedondong (Dacryoides costata), kenari (Canarium hirsutum, C luteola) dan terap (Artocarpus spp). Di KRBS terdapat sejumlah pohon yang mempunyai potensi ekonomi, misalnya jelutung, gaharu (Aqualiria malaccensis, Gonystylus macrophyllus), tembesu (Fagraea fragrans), asam (Garcinia spp), kelat (Syzygium spp), meranti, merawan (Hopea mengarwan), medang (Litsea spp, Santiria sp), dan balam (Palaquium spp).
***

GARDENIA Ellis, bukan nama seorang gadis. Pohon dengan nama latin (Gardenia tubifera-Rubiaceae) ini merupakan salah satu pohon yang terdapat di KRBS. Gardenia sering juga disebut cempaka hutan (Palembang-Sumatera), delima hutan (Bangka). Bentuk bunganya besar dan menyerupai terompet, berwarna putih sampai kuning. Bunga gardenia biasanya mekar pada sore hari, mulai sekitar pukul 17.00 atau pukul 18.00 dengan mengeluarkan aroma yang menusuk hidung.

Pohon gardenia ellis tingginya sampai 25 sentimeter dengan garis tengah batang 25-35 sentimeter. Kulit batang halus, terkadang pecah-pecah atau sedikit bersisik, berlentisel, coklat keabu-abuan, kulit bagian dalam coklat pucat. Perbanyakan dilakukan dengan biji, setek, dan cangkok. Kayunya berpotensi sebagai peralatan bubut, ukiran kayu, dan perabotan rumah. Pohonnya berguna sebagai tanaman hias di tepi jalan, halaman rumah, dan taman kota. Bijinya untuk makanan tupai dan burung.

Di KRBS terdapat pula pohon randia L (Rubiaceae) atau Randia macrophylla. Nama randia dipakai untuk menghormati Isaac Rand, seorang pelopor Kebun Raya Chelsa. Bunga pada umumnya berbau harum. Nama daerahnya antara lain, kecubung rimba, kecubung hutan dan kayu tabat. Bunga randia berbentuk corong seperti kecubung (Datura spp), tumbuh di ketiak daun atau pucuk, berukuran sangat besar dan menggantung. Berbunga sepanjang tahun, bunga berkembang dan mekar pada sore hari pukul 18.00, beraroma sampai jarak 100 meter lebih. Di alam perbanyakannya dengan biji dan kegunaannya sebagai tanaman hias.

Ada banyak lagi obyek wisata di Provinsi Jambi. Di Kota Jambi ada Sungai Batanghari yang membelah kota yang sering digunakan untuk rekreasi, dan memancing. Lomba Perahu Bidar di Sungai Batanghari, biasanya dilaksanakan pada setiap ulang tahun Provinsi Jambi 6 Januari dan ulang tahun Kemerdekaan RI 17 Agustus.


DANAU GUNUNG TUJUH, "RADIATOR" GUNUNG KERINCI

PUNCAK Gunung Kerinci yang merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia terlihat begitu dekat dari salah satu punggung Gunung Tujuh. Gunung Kerinci yang sendirian tinggi menjulang ke angkasa dan kawasan Gunung Tujuh dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dengan Muara Labuh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

BAGI para pendaki, Gunung Kerinci dengan puncaknya di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (dpl) memang seakan selalu menjadi tantangan. Akan tetapi, bagi pendaki amatiran yang sekadar ingin merasakan lelahnya berjalan menanjak melalui jalan setapak, kawasan Gunung Tujuh bisa mengobati impian menaklukkan puncak gunung tersebut.

Itulah yang dilakukan oleh sebagian besar pengunjung ke Kabupaten Kerinci, atau warga setempat yang dikitari Pegunungan Bukit Barisan itu. Pendakian ke Gunung Tujuh juga melelahkan karena jalan setapak melalui hutan perawan dengan kemiringan tajam hingga lebih dari 50 derajat.

Di kawasan Gunung Tujuh ini hidup berbagai jenis satwa khas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), siamang, beruang madu, babi hutan, tapir, bermacam burung, dan berbagai jenis kupu-kupu. Tumbuhan yang hidup di kawasan ini pun beragam dengan primadona berbagai jenis anggrek alam dan bunga kantong semar.

Akan tetapi, rasa lelah saat mendaki dipastikan lenyap saat tiba di lokasi tujuan wisata yang ada di kawasan Gunung Tujuh, yakni sebuah danau yang disebut Danau Gunung Tujuh.

Sebagian warga sekitar menyebutnya pula dengan nama Danau Dewa. Danau Gunung Tujuh adalah danau yang berada di ketinggian 1.950 meter dpl. Danau yang berada di dalam kawasan TNKS ini merupakan danau tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, banyak yang naik ke Danau Gunung Tujuh. Mereka tidak hanya berasal dari Kerinci, tetapi juga wisatawan yang datang ke daerah ini," ujar Danuri, Kepala Pos TNKS Resor Gunung Tujuh, Minggu (25/4) pagi.

Pada Minggu pagi itu, misalnya, sebanyak 60 pelajar sekolah menengah pertama (SMP) asal Sungai Penuh bersama guru mereka mendaki untuk melihat danau di atas gunung tersebut. Mereka mendaki dalam satu rombongan melalui jalur pendakian jalan setapak yang terjal.

Selain mereka yang datang untuk mendaki, sebagian pengunjung lainnya memilih berkemah di lahan kosong sekitar pos jaga. Pada hari Sabtu mereka bisanya membuka perkemahan dan pulang pada hari Minggu. Setiap akhir pekan lokasi perkemahan itu selalu diisi oleh pengunjung, terutama dari kalangan remaja dan pelajar.

"Pada malam Tahun Baru, semua lokasi perkemahan ini penuh. Bahkan jalan masuk ke sini pun dipenuhi ratusan sepeda motor pengunjung yang ingin menyambut Tahun Baru di sini," ujar Danuri.

JALUR pendakian ke Danau Gunung Tujuh bisa melalui gerbang Pos TNKS di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Di desa dengan ketinggian 1.600 meter dpl itu udara terasa dingin, terlebih lagi karena angin selalu bertiup kencang. Tanpa jaket atau baju tebal, angin dingin terasa menusuk tulang.

Pada malam hari, suhu udara di sekitar pos pendakian di Pelompek terasa jauh lebih dingin. Tanpa mengenakan jaket tebal, kaus kaki, dan selimut tebal, jangan harap bisa tidur nyenyak karena dinginnya udara.

Bagi pengunjung yang hendak mendaki ke Danau Gunung Tujuh lebih pagi, bisa memanfaatkan rumah penduduk di sekitar pos. Rumah tinggal yang sekaligus menjadi homestay tersebut bisa dipesan sebelum hari kedatangan, atau pada hari kedatangan itu juga jika kebetulan tidak ada pengunjung yang menginap.

Pengunjung bisa pula menginap di beberapa homestay di Desa Kersik Tuo yang terletak beberapa kilometer dari Pelompek. Pengunjung yang datang ke Kerinci juga bisa menginap di Sungai Penuh dan pagi-pagi menuju ke Pelompek, yang bisa ditempuh selama 90 menit perjalanan, sebelum mendaki ke Danau Gunung Tujuh.

Perjalanan dari gerbang pendakian menuju Danau Gunung Tujuh memakan waktu tempuh antara dua jam hingga tiga jam. Ada dua jalur pendakian, yakni melalui jalur lama yang lebih landai tetapi lebih jauh dan melalui jalur baru dengan kemiringan lebih curam hingga lebih dari 60 derajat namun lebih cepat.

Di ujung pendakian dari dua jalur itu, pengunjung harus melalui jalan setapak menurun yang tajam agar tiba di tepi Danau Gunung Tujuh. Di tempat inilah keajaiban alam bisa dilihat. Sebuah danau dengan panjang sekitar empat kilometer dan lebar tiga kilometer membentang di depan mata.

Danau dengan luas sekitar 12 kilometer persegi itu dikelilingi oleh enam gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo dengan ketinggian 2.525 meter dpl, Gunung Hulu Sangir (2.330 meter dpl), Gunung Mandura Besi (2.418 meter dpl), Gunung Selasih (2.230 meter dpl), Gunung Jar Panggang (2.469 meter dpl), dan gunung dengan puncak paling tinggi, yaitu Gunung Tujuh (2.732 meter dpl).

Kepala Tata Usaha Balai TNKS Kholik menyebutkan, hingga kini belum diketahui pasti satwa air apa yang hidup di dalam danau tersebut.

Danau Gunung Tujuh di beberapa bagian juga memiliki pantai yang landai meskipun sebagian besar tepi danau merupakan tepian gunung yang sangat terjal. Di salah satu bagian bahkan terdapat pantai pasir putih yang landai.

Pantai pasir putih landai di dataran tinggi tersebut merupakan satu keunikan tersendiri yang dimiliki Danau Gunung Tujuh. Pantai pasir putih ini merupakan tempat yang cocok untuk berkemah, untuk melengkapi kenikmatan menyaksikan keindahan danau, terutama ketika Sang Surya terbit dari ufuk timur.

Pengunjung yang hendak menikmati panorama alam menawan lain di kawasan Danau Gunung Tujuh bisa pula datang ke Air Terjun Gunung Tujuh. Air terjun dengan ketinggian puluhan meter itu bersumber dari Danau Gunung Tujuh. Pengunjung yang ingin mencapai air terjun ini bisa melalui jalur setapak tidak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung dengan waktu tempuh perjalanan
selama dua jam hingga tiga jam.

DANAU Gunung Tujuh dengan segala keindahan alam yang disimpannya hingga kini belum terusik tangan-tangan jahil. Hingga saat ini kawasan Gunung Tujuh adalah daerah yang masih utuh dan lestari.

Pihak Balai TNKS selalu mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini. Kepada pengunjung selalu diingatkan pula untuk tidak mencorat-coret atau menorehkan apa pun di kawasan Gunung Tujuh. Mereka juga diingatkan untuk tidak sembarangan membuang sampah.

Tidak bisa dimungkiri, Danau Gunung Tujuh dan kawasan alam di sekitarnya merupakan salah satu primadona wisata di Kabupaten Kerinci. Dari begitu banyak lokasi wisata alam yang indah di kabupaten itu, Danau Gunung Tujuh menjadi lebih menonjol karena keunikan dan keindahan yang dimilikinya.

Seorang Polisi Hutan TNKS, Untung, dengan nada bercanda malah menyebutkan kekuatan lain Danau Gunung Tujuh. Danau itu disebutnya sebagai "radiator" yang menjadi pendingin Gunung Kerinci.

Karena ada Danau Gunung Tujuh di dataran tinggi yang berdekatan dengan Gunung Kerinci, maka gunung api aktif tertinggi di Indonesia itu tidak pernah meletus. Beberapa tahun ini Gunung Kerinci bahkan tidak pernah batuk-batuk, yang menandakan keaktifannya. Itu semua terjadi karena ada "radiator" Danau Gunung Tujuh yang menjadi pendingin "mesin" Gunung Kerinci. 


Rabu, 28 Oktober 2009

Tari Rantak Kudo


Kerinci. Tari rentak kudo merupakan tari khas Kerinci, tari ini pertama kali dikenalkan oleh warga Siulak. Tarian ini menggambarkan semangat masyrakat Kerinci dalam sekror pertanian pada zaman dahulu.
Tari Rentak Kudo memiliki atraksi mistik yang memukau, karena para penari bisa berbuat aneh seperti, berjalan di atas beling kaca dan berdiri di atas bara api.
Tarian ini bisa kita lihat pada acara akbar di kerinci.

Senin, 20 September 2010


Halaman ini menyajikan informasi bangunan masjid yang masih mempertahankan seni dan arsitektur peradaban awal suku bangsa setempat di karenakan memiliki nilai dan sejarah peradaban, dan beberapa bangunan masjid yang akan dibangun pada saat sekarang dengan disain arsitektur peradaban warisan nenek moyang yang salah satu alasannya untuk mengagungkan dan memelihara nilai-nilai seni dan arsitektur peradaban asli suku bangsa, serta masjid yang telah dibangun dengan disain arsitektur moderen dengan melupakan sama sekali sejarah kejayaan peradaban dan seni arsitektur Islam pada masa-masa jayanya, dengan menerapkan konsep dengan pertimbangan serta alasan tertentu.

Seperti kita ketahui, bahwa banyak sekali arsitektur masjid yang masih mempertahankan arsitektur peradaban asli suku bangsa setempat di dunia ini, disebabkan bangunan tersebut telah ada dan dibangun pada zaman awal masuk dan berkembangnya agama Islam, sedangkan thread ini hanya akan menyajikan informasi 7 buah bangunan masjid saja yang dikategorikan sebagai “7 Simply Amazing Mosques” di dunia.

Selanjutnya untuk mengetahui informasi mengenai 25 Simply Amazing Mosques lainnya di dunia silahkan klik disini ! (http://www.intlistings.com/articles/2008/25-simply-amazing-mosques/)

1. Masjid Agung Djenné, Afrika Barat
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_djenne_westafrica.jpg
Masjid Agung Djenne, pada mulanya masjid ini dibangun sepenuhnya dengan bahan “ferey” atau bata dari bahan tanah yang dikeringkan dengan matahari dan diplaster dengan tanah lumpur, dengan ketebalan dinding antara 41 cm dan 61 cm. Masjid ini dibangun pada abad ke-13 dan direnovasi pada tahun 1834. Masjid yang terlihat pada gambar ini dibangun ulang kembali pada awal abad ke-20 dan selesai sekitar 1909. dengan bantuan dan dukungan Pemerintah Perancis dimana pada pada saat itu Djenné adalah negeri jajahan Perancis di Afrika Barat. Pemerintah Prancis telah memberi bantuan dan dukungan politik serta dana untuk pembangunan kembali Masjid Agung Djenné ini.

Satu-satunya bagian asli bangunan yang masih dipertahankan dari masjid ini adalah ruang dasar (kandang) yaitu tempat kuburan atau makam pemimpin-pemimpin lokal bangsa Djenné.

Masjid Agung ini berlokasi di tepi Sungai Bani Kumba, pada platform atau site yang telah ditinggikan dengan luas permukaan bidang 5625 m², sehingga terlindung dari banjir.

Setiap tahun, masjid Djenné mendapat perawatan atau perbaikan dalam rangka menyambut berbagai perayaan festival rakyat sebagai hiburan yang luarbiasa, serta menyenangkan bagi masyarakat Djenné.

Masjid Agung Djenné adalah salah satu “Situs Warisan Dunia” yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1988″, yang dapat dikunjungi setiap saat, tetapi tidak dibolehkan memasuki bangunan, kecuali anda Muslim. Masjid Agung ini telah ditutup untuk non-Muslim pada tahun 1996, akibat dari kerusuhan dan penembakkan salah seorang official fotografi majalah Vogue Prancis di dalam masjid.


2. Masjid Agung dari Xi’an, Cina
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_agung_xian_cina.jpg
Masjid Agung Xi’an ini adalah masjid pertama di Cina pada masa dinasti Tang, disain masjid dipengaruhi oleh arsitektur bangunan dan rumah ibadah yang lazim pada masa itu, masjid ini dibangun selama 742CE (kekuasaan Kaisar Xuanzong, 685-762).

Kemudian Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming merenovasi kembali masjid, yang samasekali tidak pernah menambahkan kubah atau dome dan menara, atau sama sekali tidak merobah arsitektur asli masjid.

Fitur yang penting dalam arsitektur ini adalah penekanan pada “simetris yang kontras” dengan taman di sekitar bangunan

Masjid ini merupakan salah satu contoh dari Sino-arsitektur Islam. di Cina, khususnya masjid yang berada di dekat Drum Tower (Gu Lou) di Huajue Lane dari Xi’an (Sian), provinsi Shaanxi, Cina, dan merupakan salah satu masjid yang paling tua dan paling terkenal di negeri ini.

Masjid ini awalnya merupakan pusat keagamaan (Islam) bagi pedagang Arab dan Persia yang beroperasi di Cina.serta pusat kegiatan hubungan dagang dengan pemerintahan dinasti Tang, Disinilah rute perdagangan Xi’an terhubung ke Timur Tengah dan Eropa, dan China untuk membuka diri dengan dunia Barat.

Pada 754 AD hasil sensus menunjukkan bahwa ada lima ribu orang asing yang tinggal di kota ini yang terdiri dari bangsa Turki, Iran, India, serta bangsa Jepang, Korea dan bangsa berbudaya Melayu dari timur.

Untuk mengetahui dan mempelajari lebih lanjut arsitektur masjid ini, silahkan kunjungi website (atau klik disini).Website ini berisi banyak gambar dan penjelasan rinci dari Masjid Agung Xi’an, serta beberapa sejarah tentang daerah tersebut.


3. Mesjid Agung Samarra, Irak
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_agungsamara_irak.jpg
Masjid Agung di Samarra, Irak ini dibangun pada abad 9, yaitu 848CE, selesai dalam 52 tahun pada masa pemerintahan khalifah Abbasid Al-Mutawakkil (di Samarra) dari 847 sampai 861.

Pada zamannya, masjid ini adalah masjid terbesar di dunia, tinggi menara, yaitu menara yang terkenal disebut menara al-Malwiya adalah 52 meter dengan lebar dasar spiral menara 33 meter, dan dapat menampung delapan puluh ribu orang jemaah. Masjid didinding atau dibatasi dengan dinding batu bata yang mengelilingi sebuah kawasan yang berukuran panjang 240 meter, lebar 158 meter, dan tinggi 10 meter. Dinding ditutupi dengan panel berwarna biru gelap dengan kaca mosaic.

Menara masjid yang berbentuk spiral. Spiral menara masjid ini ini sangat terkenal, dan merupakan fitur-fitur pertama kali yang didaftarkan pada bangunan-bangunan bersejarah “Congregational Mosque” Al-Mutawakkil di Irak, kemudian diikuti oleh 20 bangunan istana lainnya. Hal ini membuktikan bahwa pemimpin atau khalifah di Irak pada masa itu sangat menghargai perkembangan dan kemajuan karya seni arsitektur.

Sayangnya, pada 1 April 2005, bagian atas Malwiya mesjid rusak oleh sebuah bom. dalam peperangan infasi AS ke negara Irak.(seperti gambar puing masjid, disamping) Para pejabat Irak telah menyatakan klaim bahwa tentara AS telah menyebabkan kerusakan yang signifikan pada situs-situs bersejarah di Samarra, termasuk dinding sebuah istana kuno di Irak.


4. Masjid Jami-Ul-Alfar, Kolombo, Sri Lanka
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_u-alfar_colombo.jpg
Masjid Jami-Ul-Alfar, adalah salah satu masjid tertua di kota Kolombo dan merupakan ikon pariwisata di ibu kota Srilangka

Ciri khas disain arsitektur Masjid ini adalah ornamen atau dekoratif dinding belang merah dan putih.

Masjid ini berlokasi di perempatan jalan di daerah Pettah Bazaar, dibangun tahun 1909 dengan arsiteknya bernama Saibo Lebbe yang merancang bangunan ini selama satu tahun pada tahun 1908.

Beberapa orang telah mengakui bahwa masjid Jami Ul Alfar adalah salah satu “land mark” atau ikon pawisata kota Kolombo

Selain di kota Kolombo Sri Lanka, arsitektur masjid semacam ini juga terdapat di kota Kualalumpur Malaysia yang bernama Masjid Jamek

5. Masjid Dublin, Irlandia
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_dublin_ireland.jpg
Masjid Dublin Irlandia ini, merupakan salah satu masjid yang mencerminkan budaya daerah, karena pada semulanya tidak dirancang untuk bangunan masjid. Tetepi dirancang dan dibangun untuk rumah tempat tinggal, kemudian beralih fungsi menjadi masjid sebagai tempat ibadah.

Masjid ini, dibuka pada tahun 1983, oleh sekelompok mahasiswa Islam yang tiba di Dublin pada awal tahun 1950-an dalam rangka belajar di daerah ini. Mereka merupakan Perkumpulan Masyarakat Islam yang pertama pada tahun 1959 di Dublin, dan satu dekade kemudian masyarakat ini mulai menggalang dana untuk membeli sebuah bangunan yang akan dijadikan masjid.

Mereka pertama kali membeli sebuah rumah di Harrington Street, dan kemudian jumlah pendatang Islam bertambah juga maka mereka terpaksa mencari bangunan baru.

Pada tahun 1983 mereka membeli sebuah bangunan, bangunan yang sekarang ini dulunya adalah sebuah rumah di South Circular Road, Dublin 8, yang kemudian difungsikan menjadi masjid serta sebagai pusat “The Islam Foundation” di Irlandia. Saat ini jumlah umat Islam di Irlandia berjumlah lebih kurang 1300 orang.

6. Masjid Assyafaah Singapore
http://zulfikri.files.wordpress.com/2009/02/masjid_assyafaah_singapura.jpg
Masjid Assyafaah, Singapura adalah masjid yang dibangun dengan disain arsitektur moderen (The Modern Masjid), masjid ini sekaligus merupakan basis atau kantor Dewan Agama Islam Singapura yaitu Majlis Ulama Islam Singapura (MUIS) yang didisain oleh “Forum Architects Singapura”, sama sekali masjid ini tanpa kubah atau dome.

Masjid ini terletak di sebelah utara pulau Singapura di lingkungan yang penuh dengan bangunan tinggi, Arsitek Tan Kok Hiang dengan konsern mendisain masjid ini dengan konsep “keharmonisan dan toleransi” dalam keberagaman kehidupan sosial berbagai suku bangsa, sehingga diaktualisasikanlah fisik bangunan masjid tanpa memihak kepada arsitektur peradaban salah satu suku bangsa atau etnis manapun.dan bahkan juga pada paradaban agama manapun. Tapi sudahbarang tentu bangunan ini harus mempunyai ciri atau tanda bahwa bangunan tersebut sesungguhnya adalah masjid.

Masjid Assyafaah dibuka pada tahun 2004 dan ini masjid ke lima dibangun pada fase III, program “The Mosque Building Fund” masyarakat muslim Singapura Utara. Masjid dibangun dengan memakai konstruksi kerangka baja dilapisi anti karat serta penutup “colorless polyurethane”. Masjid ini juga sebagai pengganti dua buah masjid tua yang ditutup di daerah Sembawang yang dapat menampung jemaah sebanyak 4000 orang.

7. “Mahligai Minang” Masjid Raya Minangkabau
http://zulfikri.files.wordpress.com/2008/11/mesjidrayapadang.jpg
Pemerintah Propinsi Sumatera Barat ingin mewujudkan land mark selain yang ada di Sumbar yaitu Jam Gadang di Kota Bukittinggi, maka dalam satu-dua tahun ke depan akan ada land mark baru bernama “Mahligai Minang”. Ini adalah hasil karya arsitektur pemenang sayembara yang diikuti 323 arsitek dari sejumlah negara.

Mahligai Minang tidak semata-mata sebuah masjid, tetapi sebuah identitas yang akan menjadi pusat peradaban, di mana salah satu bangunan utamanya adalah bangunan masjid. Di situlah perpaduan antara Islam dan Minangkabau, dengan melengkapi bangunan atau ruangan antara lain; ruangan atau bangungunan lembaga pendidikan seperti perpustakaan, tempat rekreasi keluarga sakinah, ruang serba guna yang menampung 3.000 orang yang bisa digunakan untuk seminar, pertunjukan kesenian, dan sebagainya.

Masyarakat Minangkabau yang sebagian besar adalah penduduk wilayah Propinsi Sumatera Barat dalam menjalankan kehidupan sosial budayanya tetap berpegang teguh pada adagium adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Oleh karena itu sejak dulu sampai sekarang, masjid sebagai representasi kehidupan merupakan salah satu ikon budaya yang penting.

http://zulfikri.files.wordpress.com/2008/11/mesjidrayapadang1.jpg
Masjid tidak saja dapat dijadikan ukuran dari keberhasilan masyarakat suatu wilayah/nagari, tetapi sekali gus menjadi sebuah kebanggaan masyarakat di nagari tersebut. Itulah sebabnya sampai sekarang, setiap orang Minangkabau baik yang di kampung maupun yang di rantau selalu bergairah dan berlomba-lomba membangun dan memakmurkan masjid. Dengan demikian, masjid menjadi sentra kegiatan sosial kemasyarakatan. Di dalam adatnya disebutkan, sebagai salah satu syarat bagi sebuah nagari antara lain adalah babalai bamusajik. Adanya balai tempat bermusyawarah ninik mamak dan adanya masjid untuk aktivitas keagamaan dan ilmu pengetahuan.

Masjid merupakan bangunan utama Mahligai Minang mengambil dan mengaktulisasikan kembali seni dan arsitektur bangunan “Minangkabau pada masa peradaban kebudayaan awal”.

Seperti diketahui dalam sejarah Kerajaan Pagaruyung bahwa ada tiga fase atau gelombang peradaban kebudyaan yaitu :
1). Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Hindu Budha.
2) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Islam. dan
3) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung atau Minangkabau saat ini.
Untuk mendapat gambaran mengenai historis aksara Incung, kita menyimak hasil penelitian para pakar asing, yaitu Dr. P. Voorhoeve tahun 1941 yang mendapat bantuan isterinya dan nona N. Coster, yang keduanya menguasai aksara Kerinci dan mereka dibantu oleh Abdul Hamid seorang guru Sekolah Dasar Koto Payang I. Sebagaimana dikutip dari “Kerintji Documents, 1970: 369-370”, Voorhoeve menerangkan sebagai berikut :
Kerinci, dalam perjalanan sejarahnya, telah mempunyai hubungan politik dan kebudayaan dengan Minangkabau di sebelah Utara dan Jambi di sebelah Timur. Daerah ini sekarang kembali menjadi bahagian dari Jambi. Karena hubungan dekatnya dengan Sumatera Selatan ia dimasukkan ke dalam kepustakaan Sumatera Selatan yang disusun oleh Helfrich dan Wellan dan diterbitkan oleh Zuid- Sumatra Instituut (Institut Sumatera Selatan).
IncungDalam lapangan kesusastraan tertulis, perbedaan yang sangat menyolok antara Minangkabau dan Kerinci adalah bahwa di Kerinci terdapat banyak dokumen-dokumen atau naskah-naskah yang ditulis dalam tulisan Rencong (Ker. Incung), tulisan yang telah dipergunakan oleh rakyat Kerinci sebelum datangnya tulisan Arab-Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Kerinci, dan disimpan sebagai pusaka turun temurun, sedangkan di Minangkabau hal yang demikian tidak ada sama sekali. Tulisan Kerinci mempunyai ciri-ciri yang khas dan berbeda dengan tulisan Rencong Rejang dan tulisan-tulisan Melayu Tengah. Ini menunjukkan hasil karya nenek moyang orang Kerinci yang telah berumur ratusan tahun, sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan amat berharga dalam konteks peradaban manusia. Untuk mengenal kembali karya peradaban suku Kerinci masa silam, harus dimulai dari mana asal mulanya aksara Incung itu. Karena tanpa mengetahui historis aksara yang dipergunakan masyarakat Kerinci zaman dahulu. Kita tidak akan dapat mempelajarinya dengan benar dan tepat penggambaran simbol aksara.
Aksara Incung dan Jejak Peradaban Kerinci
Salah satu peninggalan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera adalah aksara Incung daerah Kerinci. Di Sumatera ada 4 wilayah induk penyebaran aksara daerah yaitu Batak, Kerinci, Rejang dan Lampung. Aksara Incung terdapat di Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi, satu-satunya daerah yang memiliki aksara sendiri di Sumatera bahagian tengah. Ini dibuktikan dengan adanya naskah-naskah kuno berumur ratusan tahun lebih yang mempergunakan aksara Incung, sampai saat ini masih disimpan oleh orang Kerinci. Bahasa yang dipakai dalam penulisan naskah-naskah tersebut adalah bahasa Kerinci Kuno yaitu bahasa lingua franca suku Kerinci zaman dahulu. Kalau kita simak fonetis yang terdapat dalam naskah Incung umumnya memakai bahasa Melayu. Sebab bagaimanapun juga bahasa Kerinci Kuno tersebut merupakan bahagian dari bahasa Melayu zaman lampau yang penyebaran meluas dari Madagaskar sampai ke lautan Fasifik. Sekalipun ada juga kata-kata Kerinci yang tidak ditemui di daerah penyebaran bahasa Melayu lainnya, tentu hal tersebut merupakan ‘local geneus’ yang berkembang sesuai dengan lingkungan alam dan budaya lokal.
Dengan kondisi tersebut aksara Incung pada hakekatnya adalah bahagian dari sastra Indonesia Lama, karena apa yang ditulis dalam naskah-naskah Incung Kerinci berbahasa Melayu. Dalam naskah itu, diantaranya banyak terdapat kata-kata dan ungkapan yang sulit untuk dimengerti bila dihubungkan dengan bahasa Kerinci yang digunakan oleh masyarakat sekarang, karena bahasa tersebut tidak menurut dialek desa tempatan yang ada di Kabupaten Kerinci. Namun walaupun demikian, jika disimak secara seksama isi naskah pada tulisan Incung, orang masih dapat menangkap maksud dan makna yang terkandung didalamnya.
Adapun sejarah tulisan berbahasa Melayu telah mulai dipergunakan sekitar tahun 680. Dari masa itu ada prasasti berbahasa Melayu yang sampai kepada kita, yakni prasasti Karang Berahi (Bangko), Kedukan Bukit (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Talang Tuo (Palembang), dan beberapa prasasti lainnya. Prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa (India Kuno) dalam bahasa Melayu Kuno, oleh sebab itulah bahasa resmi dalam prasasti tadi kita namakan bahasa Melayu Kuno.
Berkaitan dengan bahasa dan aksara Kerinci, termasuk bahagian yang mempergunakan bahasa Melayu, sebagaimana yang ditulis dalam naskah-naskah Incung. Dalam naskah tersebut kita temui kata-kata yang tidak lazim pada dialek penyebaran orang-orang Melayu yang bermukim di Sumatera dan Semenanjung Malaka. Perbedaannya berakar dari latar belakang bahwa induk suku Kerinci berasal dari Proto Melayu, dan dari sisi lain proses perjalanan sejarah orang Kerinci tentu berbeda dengan daerah Melayu lainnya, karena pemakaian aksara maupun fonetis bahasanya mendapat pengaruh lingkungan alam dan budaya lokal Kerinci. Satu pertanyaan, kapan aksara Incung mulai dipergunakan orang Kerinci?. Untuk mengungkapnya tentu membutuhkan penelitian yang kongrit. Namun demikian, diduga orang Kerinci telah menggunakan tulisan Incung sejak zaman sesudah adanya prasasti Sriwijaya abad ke 7 di Karang Berahi (Kabupaten Merangin) bertulisan Pallawa. Cukup beralasan karena sebelumnya tidak ditemukan benda bertulisan di daerah Kerinci umumnya di Sumatera kecuali aksara Pallawa tersebut.
Walaupun demikian belum tentu orang Kerinci pada zamannya meniru tulisan Pallawa, baik cara penulisan maupun cara bacaannya. Aksara Incung pada awalnya ditulis dengan memakai sejenis benda runcing dan guratannya mirip dengan tulisan paku aksara Babilonia Kuno. Yang jelas aksara Incung sudah dipergunakan oleh orang Kerinci selama berabad-abad sesudah aksara Pallawa dikenal oleh bangsa Melayu Sumatera. Inspirasi lahirnya aksara Incung pada orang Kerinci Kuno, didasari atas pemikiran pentingnya untuk pendokumentasian berbagai peristiwa kehidupan, kemasyarakatan, sejarah, tulis-menulis dan lain-lain.
Daerah yang terkait dengan hubungan aksara Incung Kerinci adalah Lampung dan Rejang. Seperti di Lampung, masyarakat di sana menyebut aksara daerahnya sebagai “Surat Ulu” atau sebutan lainnya “Palembang Ulu”. Di daerah Sumatera Selatan yang memakai bahasa Melayu, mengatakan bahasa yang terpakai pada ‘Surat Ulu’ tadi bukanlah bahasa Melayu, tetapi mereka mengatakan bahasa orang dahulu, bahasa kuno.
Kata Surat Ulu, yaitu surat orang zaman dahulu, banyak dibantah oleh pakar filologi. Menurut mereka yang benar ‘Surat Ulu’, yaitu surat ‘Hulu’ atau surat orang ‘pedalaman’. Karena surat-surat dengan aksara itu hanya terpakai di pedalaman saja, sedangkan pedalaman yang memiliki peradaban tulis baca pada zamannya adalah daerah Kerinci. Daerah Kerinci berdasarkan bukti-bukti temuan arkeologi, dalam sejarah kebudayaan Nusantara merupakan daerah yang sangat tua (di Kerinci ditemui keramik dari Dinasti Han 300 SM).
Untuk mengungkap historis pemakaian aksara Incung yang terdapat pada naskah-naskah kuno Kerinci. Ada petunjuk dari beberapa naskah dengan pendahuluan kata-kata berbunyi :
- Basamilah mujur batuwah jari tangan aku mangarang surat incung jawa palimbang … (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Depati Satio Mandaro di Desa Dusun Dilir Rawang)
- Ah basamilah akung mangarang parapatah surat incung jawa palimbang … (Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Rajo Sulah Desa Siulak Mukai).
Apa yang ditulis dalam naskah kuno Kerinci dengan sebutan ‘surat incung jawa palimbang’ maksudnya adalah, penyebaran aksara Incung sebagai tulisan lingua franca sampai ke daerah Sumatera bahagian Selatan pada zaman tersebut. Daerah Selatan itu yaitu daerah Lampung dan Rejang, yang mana oleh orang Kerinci zaman dahulu disebut sebagai ‘jawa palimbang’. Dimaksud dengan Jawa bukan Pulau Jawa tetapi daerah Lampung, sesuai dengan keadaan munculnya kerajaan Sriwijaya. Hal ini dijelaskan oleh prasasti Kota Kapur Bangka (686 M) yang menyebutkan penghancuran bhumi jawa yang tidak bakti (tunduk) kepada Sriwijaya, antara lain bunyinya “..ni pahat di welanya yang wala srivijaya kaliwat manapik yang bhumi jawa tida bhakti ke srivijaya”. Bhumi Jawa tersebut adalah sebuah kerajaan di Lampung, yaitu Tulang Bawang yang memiliki kekuatan menyaingi Sriwijaya. Sedangkan ‘palimbang’ yang dimaksud dalam tulisan Incung Kerinci, juga bukan berarti kota Palembang, tetapi adalah komunitas orang dengan kebudayaannya di Sumatera Selatan, karena aksara Incung tidak terdapat di Palembang.
Jadi aksara yang terdapat dalam naskah kuno Kerinci, zaman dahulunya pemakaiannya sampai ke Rejang dan Lampung. Dalam naskah kuno Incung juga disebut nama kota-kota tua yang ada di daerah Selatan, sekalipun saat sekarang kota atau tempat tersebut tidak lagi memakai nama seperti dalam naskah Incung. Kerinci sebagai daerah hulu yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, dan orang Kerinci menyebut Jambi dan Palembang sebagai daerah rantau transit perdagangan ke selat Malaka. Selama ratusan tahun hubungan orang Kerinci ke Selatan dengan melewati jalur tradisional Merangin dan Gunung Sumbing, untuk perdagangan sekaligus kontak budaya dengan masyakarat bahagian Selatan. Dari hubungan antara segala macam fenomena simbolik dengan realitas kehidupan masyarakat Kerinci dahulunya dengan orang-orang Melayu Sumatera, dapat diproyeksikan keberadaan aksara Incung sudah dipergunakan secara luas pada abad ke 14 M..
Dalam perkembangannya, kita akan menemukan karya aksara Incung pengaruh Hindu. Pengaruh Hindu merupakan pengaruh asing pertama dan lama di Nusantara ini. Kenyataan terdapatnya kata-kata Hindu dalam naskah kuno Kerinci aksara Incung seperti kata Batara, Dewa, dan sebagainya.
Dalam pada itu, setelah agama Islam sampai ke Nusantara ini, beberapa suku bangsa yang disebut sebagai rumpun Melayu itu kemudian berkembang dengan ciri-ciri agama, bahasa, dan budayanya masing-masing. Dalam perkembangan yang terjadi melalui jalan sejarah yang panjang itu kita akhirnya dapat melihat bahwa orang-orang atau penduduk yang mendiami Sumatera, khususnya wilayah Kerinci memperlihatkan ciri dengan suatu warna budaya yang amat banyak diwarnai oleh agama mereka, yaitu Islam. Penduduk daerah ini beragama Islam, berbahasa Melayu Kerinci, serta mempunyai berbagai kesamaan pula dalam adat dan tradisi dengan daerah sekitar Kerinci seperti Minangkabau dan Jambi.
Begitupun dengan aksara daerah yang dimiliki orang Kerinci disebut ‘aksara Incung’, menghasil karya-karya tulis bermutu tinggi sekalipun mereka telah melupakannya. Sejak abad ke-19 naskah-naskah aksara Incung telah dijadikan benda keramat oleh rakyat Kerinci, sedangkan orang-orang yang ahli dan dapat menulis dan membaca tulisan ini sudah tiada lagi.
Media Penulisan Aksara Incung
Penulisan aksara Incung oleh orang Kerinci dimuat dalam karya sastra klasik. Pengertian sastra klasik ialah segala sesuatu yang tertulis, segala rupa tulisan dapat dipandang sebagai produk sastra, bermacam tulisan dalam berbagai bidang ilmu dan warna kehidupan dapat menjadi sasaran studi sastra. Kajian ini merupakan suatu studi yang memanfaatkan segala dokumen tertulis bagi suatu pembahasan berbagai cabang ilmu, kebudayaan, dan agama. Pengertian sastra yang dipasang dalam cabang ini memberi peluang kepada siapapun untuk memakai segala teks tertulis untuk kepentingan bahan kajian dalam suatu kegiatan ilmu tertentu. Hasil sastra klasik Kerinci secara tertulis mulai pada zaman Islam awal memakai aksara Incung, dapat kita temukan pada naskah-naskah kuno Kerinci. Naskah kuno Kerinci yang sampai kepada kita berasal dari abad ke 13 – 19 M berupa benda-benda pusaka atau ‘pedandan’.
Ada semacam kepercayaan dikalangan orang Kerinci, bahwa penciptaan aksara dan pelahiran kesusastraan bersumber dari suatu latar belakang perwujudan budaya alam, manusia, dan Ketuhanan sebagai suatu keseluruhan. Sehingga kesusastraan orang Kerinci yang ditulis pada media tanduk kerbau, bambu, kulit kayu, daun lontar, kain dan kertas merupakan kesusastraan suci yang dianggap keramat dan sakti. Sampai saat sekarangpun kepercayaan tersebut sulit hilang dalam kehidupan budaya masyarakat Kerinci
Kalau kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, banyaklah hal yang dapat dibicarakan dalam konteks tersebut. Bahasa, adat-istiadat, kesenian, dan ilmu pengetahuan adalah hasil-hasil budaya manusia yang harus dipertahankan hidupnya dan diusahakan pengembangannya. Salah satu aset kebudayaan Kerinci adalah bahasa Kerinci, bahasa ini memiliki perbedaan dengan dialek yang diucapkan oleh daerah sekitar Kerinci seperti Jambi dan Minangkabau. Kebanyakan bahasa daerah yang dipakai penduduk Sumatera umumnya adalah bahasa Melayu, kedalamnya termasuk juga bahasa Kerinci. Bahasa Kerinci dipergunakan khusus penutur yang ada di kabupaten Kerinci.
Sekalipun bahasa Kerinci berbeda dengan daerah lainnya di Sumatera, namun bahasa daerah ini berpokok kepada bahasa Melayu. Sejak zaman dahulu menjadi bahasa untuk semua kegiatan bagi orang Kerinci. Bahasa ini dipergunakan juga oleh orang Kerinci dalam penyebaran agama, perdagangan, pertanian dan sastra.
Naskah-naskah kuno Kerinci yang kita sebutkan itu merupakan satu perigi dari perigi khasanah sastra Melayu Klasik di Indonesia. Masih terbuka lagi kemungkinan menemukan perigi lain dari peninggalan peradaban Kerinci masa silam. Juga akan menjadi bahan studi menarik, baik dari segi mutu maupun ketinggian nilai sastranya. Kita melihat beberapa aspek naskah kuno daerah Kerinci, yang kita pandang sebagai dokumen tertulis sastra klasik. Hasil sastra klasik itu tidak lain berupa naskah-naskah, merupakan peninggalan dan hasil karya nenek moyang orang Kerinci masa silam.
Bahasa Kerinci
Bahasa Kerinci adalah bahagian dari bahasa Melayu, sebagai daerah terpencil mempunyai dialek tersendiri Dialeknya berbeda sekali dengan suku-suku Sumatera lainnya. Namun orang Kerinci mengerti apabila orang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu atau Indonesia umumnya mereka langsung mengerti pembicaraan tersebut. Karakteristik bahasa Kerinci terletak pada dialeknya yang banyak, hal seperti ini tidak ditemui di daerah lainnya Indonesia. Sehingga terdapat dialek yang berbeda sebanyak jumlah desa (dusun asli, masyarakat persekutuan adat) yang ada dalam Kabupaten Kerinci semuanya berjumlah + 177 dialek. Diantara Faktor lain yang sangat mempengaruhi majemuknya dialek tersebut, dikarenakan kelompok–kelompok yang membentuk dusun (Kerinci: luhah, nagehi) lebih dominan hubungan genealogis teritorialnya. Sekalipun dusun itu bertetangga hanya dibatasi oleh jalan atau seberang sungai saja, tetapi ketika saling berkomunikasi mereka sama–sama mengerti maksud dari pembicaraan lawannya. Juga tidak menghambat hubungan silaturahmi diantara mereka dalam dialek yang berbeda tersebut. Mereka merupakan kesatuan dalam sebuah lingkungan budaya Alam Kerinci. Jadi bahasa Kerinci ialah bahasa yang saling dimengerti oleh masyarakat yang menghuni lingkungan Alam Kerinci atau Kabupaten Kerinci. Melihat bentuk grafis aksara Incung Kerinci hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung. Sekalipun pada bacaan dan penulisannya banyak juga perbedaan yang mendasar. Kemiripan aksara-aksara daerah itu disebabkan, mereka berasal dari satu lingkungan budaya Sumatera yang sama pada masa dahulunya. Kemudian proses tumbuh dan berkembang, aksara tersebut mengalami corak yang membedakan satu sama lainnya sesuai dengan kondisi dan letak pusat induk kultur masing-masing etnis Sumatera itu.
Satu hal, pada naskah-naskah tulisan Incung itu tidak ditemukan penunjuk angka untuk bilangan. Jadi tulisan Incung hanya mengenal huruf saja dan tidak mempunyai angka bilangan. Mungkin inilah yang menyebabkan pada setiap naskah tidak didapati penanggalan maupun tanggal penulisannya.
Agama Islam berkembang dengan pesat di Nusantara pada puncaknya abad ke – 16, dengan masuknya pengaruh Islam ke Kerinci penulisan naskah-naskah beralih ke aksara Arab dengan bahasa Melayu. Hasil-hasil sastra Kerinci pengaruh Islam cukup banyak, antara lain cerita tentang Nabi Adam, Nabi Muhammad SAW, cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam, dan cerita mistik dan tasauf. Penulisan sastra Incung juga dipengaruhi oleh Islam seperti adanya dalam naskah-naskah kuno Kerinci aksara Incung, seperti pada kata pengantar : basamilah mujur dan assalamualikun. Ini menunjuk bahwa orang Kerinci saat peralihan masuknya aksara Arab atau Islam, tidak menjadikan hilangnya aksara Incung dari kehidupan mayarakat Kerinci. Tetapi memperkaya karya sastra Incung dengan nuansa Islam, yang mana mereka menulis naskah-naskah Incung dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam.
Ditulis oleh Depati Alimin
Depati Alimin lahir di Kerinci 10 Agustus 1952. Penulis, peneliti, budayawan, pemangku adat. Jabatan : Ketua Seksi Seni Budaya LAAK.
Menulis sejak tahun 1970, tulisan berupa puisi, essai, future dimuat dimedia massa Haluan (Padang), Merdeka (Jakarta), Jambi Ekspres (Jambi), Independent (Jambi), Andaka (Jakarta). Antologi puisi “Rakit Biru, 1998” bersama penyair Jambi, antologi cerpen “dari Tauh sampai Kedondong, 1999”, antologi “Tadarus Puisi, 2002” bersama Penyair Jambi terbitan Dewan Kesenian Jambi. Antologi puisi “Tirawang, 2000”, antologi dongeng Kerinci “Telor Naga, 2000”, buku Benda Cagar Budaya Kabupaten Kerinci (2001).
Diklat teknis Sarasehan dan Worshop Seni Teater (1997) di Jambi, Penataran Pengembangan Kebudayaan Daerah Jambi (1997), Sarasehan dan Worshop Teater dan Aktor Film (1999) di Jambi, Peny. Inf. Seni Tari (1999) di Jakarta, Pemetaan Seni (1999) di Jambi, Teknik Pengembangan Kebudayaan (1999) di Jakarta.
Pemakalah seminar Busana dan Pelaminan Adat Daerah Kerinci (1996), pemakalah Festival Seni Pertunjukan Rakyat (1996), Pemakalah Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah (2000), pemakalah seminar Mempertahankan Pelestarian TNKS dan Keanekaragaman Hayati Melalui Pendekatan Kebudayaan (2002), pemakalah seminar Satu Abad Perang Kerinci 1903 (2002).
Penghargaan antara lain: Specialist of Kerinci traditions and social and cultural characteristis (1993) dari Direktur CNWS Leiden University Belanda, Pemenang Lomba Cipta Puisi “Batanghari” (1998) se-Propinsi Jambi, Certificate as a Specialist in Kerinci culture (1999) dari Chair of cultural anthropology of Indonesia Rijks-universiteit Leiden, Pemenang I Lomba Cendramata (1999) se-Propinsi Jambi, 10 Besar Penyair Jambi pada Dialog dan Kreativitas Seni 2000, Pemenang I Lomba Penulisan Sejarah Jambi (1999) se-Propinsi Jambi, Budayawan berprestasi (2000) dari Bupati Kerinci. Pemimpin artistik Muhibah Budaya Kabupaten Kerinci ke Pahang Malaysia (2001). Penulis Dinamika Adat Provinsi Jambi dari Lembaga Adat Provinsi Jambi (2002), Nara Sumber Expedition of Kerinci KKL Arsitektur Nusantara dari Universitas Bung Hatta dan Universitas Tri Sakti (2003).
Hubungan internasional The Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences- Leiden University Belanda, Albert Ludwigs-Universitat Freiburg Jerman, Division of the Arts-University of California USA.

HAS ADAT SAKTI ALAM KERINCI

MENARA DI LAPANGAN MERDEKA SUNGAI PENUH KERINCI

Dua orang pesilat unjuk kebolehan dalam sebuah pementasan seni pencak silat khas kerinci.
Dengan menggunakan senjata Pedang, jurus-juruspun dimainkan, atau yang lebih dikenal dengan nama " Langkah Tigo " atau ada juga yang memakai "Langkah Empat". Seni ini sampai sekarang masih tetap dilestarikan, terutama di pentaskan pada saat acara2 kenduri sko, penyambutan tamu undangan dsb.., semoga tetap lestari dan menjadi kekayaan budaya kerinci dan kebanggaan masyarakatnya





 Sirih Pinang yang terhidang didalam Carano, sebagai ucapan Selamat Datang bagi para tamu dan Undangan, karib kerabat dan Para Pemangku Adat yang bertandang ke Ranoh Kincai . . .
Sirih pinang disusun sedemikian rupa didalam sebuah wadah yang dinamakan "Carano" yang diselipkan juga dengan rokok enau atau rokok yang terbuat dari bahan nipah, dan disertai tembakau.
Konon tradisi ini sudah dilakukan oleh para nenek moyang dan orang 2 Tua dahulu dan masih dibudayakan serta telah menjadi Adat sampai sekarang . . .
 

 Tari Sike di gelar pada acara2 gotong royong dan kerja bakti, dinyanyikan oleh kaum wanita. Lirik2 yang berisi pantun2 dan cerita memberi nuansa yang khas dalam kegiatan GOTONG ROYONG, kaum bapak yang dengan semangat dan gigih bekerja merampungkan pekerjaan yang di iringi oleh "lagu sike" oleh kaum ibuk dengan penuh semangat pula.
Alunan pantun yang indah dan serasi menambah hangatnya atmosfir kebersamaan dan kekeluargaan. Seandainya anda berada langsung dalam moment ini dan menyaksikan langsung, pasti anda akan terbuai dan terbawa oleh suasana..hmm..Luar biasa..


Gimana asyik kan khas kerinci .....,,,, ni ada lagi di tambah denagan saksi sejarah islam ....,,,


MASJID -  ini adalah bagian dari saksi sejarah mengenai penyebaran Islam yang telah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu di Kerinci. Dan juga saksi sejarah mengenai kemampuan dan kecerdasan masyarakat lokal dalam mendirikan sebuah bangunan. Arsitektur bangunan ini yang memiliki beberapa persamaan dengan masjid kuno lainnya di seluruh kawasan Nusantara, terutama bentuk atapnya, menunjukkan bahwa daerah Kerinci telah menjadi bagian dari daerah persebaran arsitektur Islam Nusantara, yang memiliki ciri dan pola tertentu. Salah satu indikasi dari adanya ciri dan pola tersebut adalah persamaan bentuk atap masjid kuno di seluruh kawasan Nusantara, termasuk di Kerinci.

Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun secara bergotong-royong oleh warga Dusun Pondok Tinggi, Kerinci pada tahun 1874 M. Menurut catatan masyarakat tempatan, awal pembangunan dimulai pada hari Rabu, 1 Juni 1874 dan selesai pada tahun 1902. Cerita mengenai proses pembangunan masjid ini juga menunjukkan kultur komunal yang masih kuat berakar pada masyarakat Kerinci saat itu. Menurut kisahnya, sebagian besar warga dusun, laki-laki dan perempuan bergotong-royong mengumpulkan kayu untuk pembangunan masjid. Untuk meningkatkan semangat kerja, warga dusun juga mengadakan pagelaran berbagai seni pertunjukan tradisional Kerinci, di antaranya pencak silat.

Setelah kayu terkumpul dan fondasi berhasil dibangun, warga masyarakat kemudian mengadakan musyawarah untuk membentuk panitia pelaksana pembangunan masjid. Dalam musyawarah tersebut, berhasil disepakati empat orang pelaksana inti yaitu: Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah Taat dan Haji Rajo Saleh (Rio Tumenggung). Berkaitan dengan rancangan masjid, warga masyarakat dan panitia pelaksana memilih rancangan (desain) M. Tiru dari daerah Rio Mandaro. Untuk mengerjakan rancangan tersebut, kemudian dipilih 12 orang tukang bangunan yang dianggap telah memiliki keahlian yang mumpuni. Hasilnya adalah masjid yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Menurut cerita masyarakat, pembangunan masjid ini diawali dengan pesta keramaian selama 7 hari 7 malam, dengan menyembelih 12 ekor kerbau. Selain dihadiri oleh seluruh warga dusun, pesta keramaian tersebut juga dihadiri oleh seorang pangeran pemangku dari Jambi. Namun, nama pangeran tersebut tidak diketahui hingga saat ini.

Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di Dusun Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Jambi , Indonesia . Sungai penuh merupakan daerah dataran tinggi, dengan iklim yang cukup sejuk dan lingkungan yang masih serba alami dan hijau.

Masjid Agung ini merupakan saksi sejarah kecerdasan masyarakat desa dalam mendirikan suatu bangunan. Dari kejauhan, kemegahan masjid tua ini sudah kelihatan. Tinggi bangunan dari lantai dasar hingga ke pucak atap lebih kurang 100 kaki (sekitar 30,5 meter). Sebagaimana atap masjid masjid tua lainnya di Nusantara, Masjid Agung ini juga memakai desain atap tumpang berlapis tiga, makin ke atas makin kecil, dengan bahan dari seng. Lapisan atap paling atas berbentuk piramidal. Menurut masyarakat setempat, susunan atap tiga lapis ini merupakan lambang dari tatanan hidup masyarakat Kerinci, yakni bapucak satau (berpucuk satu), barempe juroi (berjurai empat) dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Secara ringkas, makna filosofis dari ungkapan di atas adalah: (1) berpucuk satu berarti menghormati satu kepala adat dan menjunjung tinggi kepercayaan pada Yang Kuasa; (2) berjurai empat artinya, di Dusun Pondok Tinggi terdapat empat jurai. Di setiap jurai terdapat seorang ninik mamak atau pemangku adat dan seorang imam. Jadi, terdapat empat orang pemangku adat dan empat orang imam; (3) bertingkat tiga artinya, masyarakat Pondok Tinggi tidak pernah melepaskan seko nan tega takak (pusaka tiga tingkat) yang terdiri dari pusaka tengnai, pusaka ninik mamak dan pusaka depati. Dari uraian di atas, tampak bahwa desain arsitektur masjid ini merupakan refleksi dari sebagian pandangan hidup masyarakat berkaitan dengan adat istiadat dan ketuhanan.

Masjid setinggi 100 kaki ini ditopang oleh 36 buah tiang yang besar dan kokoh, yang dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu:

1. Tiang panjang sambilea (sembilan), berjumlah empat buah, membentuk segi empat pada ruang masjid yang paling dalam. Keempat tiang yang berasal dari batang pohon yang utuh dan kuat tersebut dinamai tiang tuo, mirip dengan sokoguru yang terdapat dalam arsitektur Jawa. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan. Belum didapat penjelasan, apakah pemberian kain warna merah putih ini dilakukan sejak awal masjid berdiri, atau setelah Indonesia merdeka, mengingat bendera nasional Indonesia adalah merah putih.

2. Tiang panjang limau, berjumlah delapan buah, membentuk segi empat pada ruang tengah.
3. Tiang panjang duea, berjumlah 24, yang membentuk segi empat pada bagian ruang yang paling luar.

Selain ketiga jenis tiang tersebut, masih ada beberapa tiang sambut yang dirancang menggantung, tidak menancap (tertajak) ke tanah. Desain menggantung ini dimaksudkan agar tiang tersebut memiliki daya lenting dan elastis, sehingga tahan terhadap gempa bumi yang memang sering terjadi di kawasan tersebut. Tiang-tiang tersebut juga dihiasi dengan ukiran bermotif flora.

Pasca kemerdekan Indonesia, masjid ini pernah dikunjungi oleh Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, dan Ruslan Mulyoharjo, Gubernur Sumatera Tengah. Saat ini, Masjid Agung ini masih berdiri megah, dengan dinding yang masih terbuat dari kayu (papan). Berbagai kegiatan dakwah Islam yang berpusat di masjid Agung masih terus dilakukan masyarakat, salah satunya adalah siaran radio untuk menyebarkan dakwah Islam di masyarakat.  Perancang masjid adalah M. Tiru, warga Dusun Pondok Tinggi. 

Sabtu, 18 September 2010

A. Pendahuluan
Arsitektur posmo seperti yang telah kita ketahui muncul setelah arsitektur modern, arsitektur post modern tidak dapat dipisahkan dengan arsitektur modern karena arsitektur post modern merupakan :
1. Kelanjutan arsitektur modern.
2. Reaksi terhadap arsitektur modern.
3. Koreksi terhadap arsitektur modern.
4. Gerakan melengkapi dari apa yang masih belum terpenuhi dalam arsitektur modern.
5. Menyodorkan alternatif sehingga arsitektur tidak hanya satu jalur saja.
6. Memberi kesempatan untuk menangani arsitektur dari kemungkinan – kemungkinan, pendekatan – pendekatan, dan alternatif – alternatif yang lebih luas dan bebas.


Dari hal – hal tersebut di atas maka dapat kita simpulkan bahwa arsitektur modern mempunyai pengaruh yang cukup penting terhadap arsitektur post modern (baik dalam ideology, desain, gaya, dll).

B. Arsitektur modern
Arsitektur modern tidak bermula dengan revolusi yang tidak dengan tiba – tiba membuang yang pra modern dan menggantinya dengan geometris sebagai satu – satunya rupa arsitektur, tetapi secara setahap demi setahap menghapuskan ornamen – ornamen dan dekorasi yang digantikan oleh geometri. Arsitektur modern diketahui telah berkembang lebih kurang setengah abad, berawal kira – kira tahun 1920 hingga 1960 dan pada bulan September 1930 telah diadakan suatu konggres oleh CIAM yang menghasilkan metode berpikir secara rasional untuk membangun kembali bangunan – bangunan yang hancur akibat perang dunia II. Dalam hal ini mereka menerapkan kecepatan dalam membangun (pabrikasi komponen bangunan), efisien, ekonomis, dan rasional. Penekanannya pada rasionalitas. Bangunan yang demikian ini dianggap mencerminkan fungsinya dan gejala ini melintasi batas negara dan budaya, sehingga dapat dianggap bersifat Internasional.

Arsitektur modern mempunyai pandangan bahwa arsitektur adalah ‘olah pikir’ dan bukan ‘olah rasa’ (tahun 1750), dan ‘permainan ruang’ dan bukan ‘bentuk’. Sejalan dengan kemajuan teknologi yang pesat ikut mempengaruhi arsitektur. Munculnya teknologi bahan bangunan yang mendukung arsitektur modern. Misalnya kaca yang dapat digunakan untuk mengekspresikan space atau ruang. Karena ciri – cirinya yang ‘ada tapi tak terlihat’. Selain itu untuk mewujudkan kecepatan dalam membangun maka dilakukan dengan produksi masal bahan bangunan sehingga mengakibatkan arsitektur modern dapat menembus batas budaya dan geografis, dan arsitektur menjadi suatu gaya internasional serta bangunan – bangunan di dunia menjadi seragam. Ornamen – ornamen dalam bangunan dianggap suatu kejahatan dan klasisme yang pernah dipakai oleh kaum fasis dan nazi menjadi symbol yang negatif dan perlu diolah.

Arsitektur puncak modern
a. Para empu arsitektur modern
Arsitektur pada puncak modern hadir tidak pada hanya 1 macam rupa arsitektur, tetapi ada empat aliran besar yaitu: Alvar Aalto yang tradisionalis

,Lee Corbusier yang seniman,

dengan Frank Lloyd Wright yang naturalis

,Mies Van Der Rohe yang fungsionalis.

Para empu tersebut sama sekali sudah praktis tidak memperlihatkan ornamentasi, kecuali Frank Lloyd Wright yang masih memakai ornamentasi. Di Indonesia gaya arsitektur yang terkenal pada jaman itu adalah arsitektur gaya Jengki.
b. Degradasi arsitektur modern: dengan tertib – gubahan klasik.
Arsitektur modern merupakan Internasional Style yang menganut Form Follows Function ( bentuk mengikuti fungsi ). Bentukan platonic solid yang serba kotak, tak berdekorasi, perulangan yang monoton, merupakan ciri arsitektur modern. Suasana degradatif ditampilkan oleh adanya arsitektur modern yang telah tidak mampu membedakan dirinya dari sebarang bangunan ( arsitektur itu lebih dari sekedar bangunan ), gubahan olah seni atau olah nalar atau keduanya tidak jelas karena prosesnya telah sedemikian mekanistik dan terformulasi keinginan untuk mendongkrak kembali degradasi ini. Hal ini justru merupakan kesalahan karena yang muncul malah cemoohan dan kelainan.

Gerakan yang mengarah ke keadaan suatu langgam dan selalu berpedoman pada rasionalitas dan fungsionalitas ini, mengakibatkan reaksi dan kritik dari masyarakat. Masyarakat merasa jenuh, dan keterasingan akan budaya masa lalu mereka. Salah satu kerangka teoritis yang menonjol dalam menentang doktrin arsitektur modern ini dikemukakan oleh Robert Venturi dalam bukunya : Complexity and contradiction in Architecture. Kerangka teoritis tersebut adalah ‘less is bore’ yang menentang doktrin ‘less is more’ dari L. M. Van Der Rohe. Karenanya arsitektur modern mengalami kemerosotan popularitas, bahkan oleh beberapa arsitek dikatakan telah mati dengan tanda resmi kematiannya; saat diledakkannya permukiman orang Negro ‘Pruit Igoe’ karya Yamasaki di St. Louis pada tahun 1972.

Ciri – ciri dari arsitektur modern adalah:
- Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam)
Merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis.
- Berupa khayalan, idealis
- Bentuk tertentu, fungsional
Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monoton karena tidak diolah.
- Less is more
Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut.
- Ornamen adalah suatu kejahatan sehingga perlu ditolak
Penambahan ornamen dianggap suatu hal yang tidak efisien. Karena dianggap tidak memiliki fungsi, hal ini disebabkan karena dibutuhkan kecepatan dalam membangun setelah berakhirnya perang dunia II.
- Singular (tunggal)
Arsitektur modern tidak memiliki suatu ciri individu dari arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya (seragam).
- Nihilism
Penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apa–apanya kecuali geometri dan bahan.
C. Munculnya Arsitektur Post Modern
Arsitektur Post Modern bermula dari kejenuhan masyarakat terhadap arsitektur modern, maka timbullah gerakan pembenahan dari para arsitek Arsitektur post modern ini muncul dalam tiga versi atau sub langgam yaitu: purna modern, pasca modern, dan dekonstruksi (banyaknya pengertian maupun versi tentang post modern ini memang telah membuat sejumlah pihak mengalami kebingungan khususnya untuk menentukan siapa dan mana yang dapat dipercaya atau dapat diandalkan sebagai yang benar). Arsitektur purna modern dan neo modern merupakan hasil pemikiran arsitektur untuk mengkoreksi degradasi yang terjadi. Pertanda pertama berakhirnya arsitektur modern adalah dengan meninggalnya keempat empu arsitektur modern. Selain itu juga karena adanya protes keras dari masyarakat awam Eropa, mereka beranggapan bahwa suatu pembangunan yang didahului dengan pembongkaran atau penghancuran tak perlu melibatkan campur tangan arsitek, sembarang orang juga dapat melakukannya. Arsitek ditantang untuk membangun tanpa merusak sehingga muncullah arsitektur purna modern yang mendamaikan antara yang baru dan lama.

Simpulan yang paling mencolok adalah bahwa cita - cita yang dikumandangkan oleh modernisme yaitu menolak elektikisme tetapi malah ditampilkan, ini merupakan tanda – tanda berakhirnya arsitektur modern. Arsitektur post modern melakukan gugatan – gugatan besar pada arsitektur modern yang ditujukan terhadap sifat arsitektur modern yang totalitarian dan fungsional/utilitarian.

Ciri – ciri umum Arsitektur post modern:
Untuk lebih memperjelas pengertian arsitektur post modern, Charles Jencks memberikan daftar ciri–ciri sebagai berikut:
1. Ideological
Suatu konsep bersistem yang menjadi asas pendapat untuk memberikan arah dan tujuan. Jadi dalam pembahasan Arsitektur post modern, ideological adalah konsep yang memberikan arah agar pemahaman arsitektur post modern bisa lebih terarah dan sistematis.
a. Double coding of Style
Bangunan post modern adalah suatu paduan dari dua gaya atau style, yaitu :
Arsitektur modern dengan arsitektur lainnya.
b. Popular and pluralist
Ide atau gagasan yang umum serta tidak terikat terhadap kaidah tertentu, tetapi memiliki fleksibilitas yang beragam. Hal ini lebih baik dari pada gagasan tunggal.
c. Semiotic form
Penampilan bangunan mudah dipahami, Karena bentuk–bentuk yang tercipta menyiratkan makna atau tujuan atau maksud.
d. Tradition and choice
Merupakan hal–hal tradisi dan penerapannya secara terpilih atau disesuaikan dengan maksud atau tujuan perancang.
e. Artist or client
Mengandung dua hal pokok yaitu:
- Bersifat seni (intern)
- Bersifat umum (extern)
Yang menjadi tuntutan perancangan sehingga mudah dipahami secara umum.
f. Elitist and participative
Lebih menonjolkan suatu kebersamaan serta mengurangi sikap borjuis seperti dalam arsitektur modern.
g. Piecemal
Penerapan unsur–unsur dasar, secara sub–sub saja atau tidak menyeluruh. Unsur–unsur dasar seperti: sejarah, arsitektur vernakular, lokasi, dan lain–lain.
h. Architect, as representative and activist
Arsitek berlaku sebagai wakil penerjemah, perancangan dan secara aktif berperan serta dalam perancangan.

2. Stylitic (ragam)
Gaya adalah suatu ragam (cara, rupa, bentuk, dan sebagainya) yang khusus. Pengertian gaya – gaya dalam arsitektur post modern adalah suatu pemahaman bentuk, cara, rupa dan sebagainya yang khusus mengenai arsitektur post modern:
a. Hybrid Expression
Penampilan hasil gabungan unsur–unsur modern dengan:
- Vernacular
- Local
- Metaphorical
- Revivalist
- Commercial
- contextual
b. Complexity
Hasil pengembangan ideology–ideology dan ciri–ciri post modern yang mempengaruhi perancangan dasar sehingga menampilkan perancangan yang bersifat kompleks. Pengamat diajak menikmati, mengamati, dan mendalami secara lebih seksama.
c. Variable Space with surprise
Perubahan ruang–ruang yang tercipta akibat kejutan, misalnya: warna, detail elemen arsitektur, suasana interior dan lain–lain.
d. Conventional and Abstract Form
Kebanyakan menampilkan bentuk–bentuk konvensional dan bentuk–bentuk yang rumit (popular), sehingga mudah ditangkap artinya.
e. Eclectic
Campuran langgam–langgam yang saling berintegrasi secara kontinu untuk menciptakan unity.
f. Semiotic
Arti yang hendak di tampilkan secara fungsi.
g. Varible Mixed Aesthetic Depending On Context
Expression on content and semantic appropriateness toward function. Gabungan unsur estetis dan fungsi yang tidak mengacaukan fungsi.
h. Pro Or Organic Applied Ornament
Mencerminkan kedinamisan sesuatu yang hidup dan kaya ornamen.
i. Pro Or Representation
Menampilkan ciri–ciri yang gamblang sehingga dapat memperjelas arti dan fungsi.
j. Pro-metaphor
Hasil pengisian bentuk–bentuk tertentu yang diterapkan pada desain bangunan sehingga orang lebih menangkap arti dan fungsi bangunan.
k. Pro-Historical reference
Menampilkan nilai-nilai histori pada setiap rancangan yang menegaskan ciri-ciri bangunan.
l. Pro-Humor
Mengandung nilai humoris, sehingga pengamat diajak untuk lebih menikmatinya.
m. Pro-simbolic
Menyiratkan simbol-simbol yang mempermudah arti dan yang dikehendaki perancang.

3. Design Ideas ( Ide-Ide Desain )
Ide-ide desain adalah suatu gagasan perancangan. Pengertian ide-ide desain dalam Arsitektur Post Modern yaitu suatu gagasan perancangan yang mendasari Arsitektur Post Modern
a. Contextual Urbanism and Rehabilitation
Kebutuhan akan suatu fasilitas yang berkaitan dengan suatu lingkungan urban.
b. Functional Mixing
Gabungan beberapa fungsi yang menjadi tuntutan dalam perancangan.
c. Mannerist and Baroque
Kecenderungan untuk menonjolkan diri.
d. All Phetorical Means
Bentuk rancangan yang berarti.
e. Skew Space and Extensions
Pengembangan rancangan yang asimetris-dinamis.
f. Street Building
g. Ambiquity
Menampilkan ciri-ciri yang mendua atau berbeda tetapi masih unity dalam fungsi.
h. Trends to Asymetrical Symetry
Menampilkan bentuk-bentuk yang berkesan keasimetrisan yang seimbang.
i. Collage/Collision
Gabungan atau paduan elemen-elemen yang berlainan

Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri–ciri di atas yang berbeda dengan modern. tiga perbedaan penting dengan yang modern itu adalah:
1. Semboyan form follows function
Arsitektur modern tidak semboyan form follows function melainkan mendefin isikan arsitektur sebagai sebuah rasa sehingga arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
Yang dikomunikasikan oleh tiap sub langgam itu berbeda–beda yaitu:
A. Purna modern
Yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, dan identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari bagian dari perjalanan manusia
B. Neo modern
Mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistic dan estetik yang dominan
C. Dekontruksi
Yang dikomunikasikan adalah:
1. Unsur–unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.
2. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen–elemen yang essensial maupun substansial.
Sehingga dapat dikatakan bahwa:
Arsitektur purna modern memiliki kepedulian yang besar pada masa lalu
Arsitektur neo modern memiliki kepedulian yang besar pada masa kini.
Arsitektur dekontruksi tidak mengikatkan diri pada salah satu dimensi.

Fungsi
Yang dimaksud bukanlah ‘aktifitas’ ataupun ‘apa yang dilakukan atau dikerjakan manusia terhadap arsitektur’ seperti dalam arsitektur modern. Dalam arsitektur post modern yang dimaksud fungsi adalah kemampuan dan peran arsitektur untuk mempengaruhi dan me-layani manusia (sebagai mahluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, mimpi dan ambisi, nostalgia dan memori). Manusia bukan sebagai mahluk biologis tetapi sebagai pribadi.
Berdasarkan pokok pikiran ini maka:
Arsitektur purna modern yang di tonjolkan dalam fungsinya adalah fungsi–fungsi metaforit (simbolik) dan historical.
Arsitektur neo modern yang ditonjolkan adalah fungsi –fungsi mimpi yang utopi ( masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak terbayangkan)
Arsitektur dekontruksi menunjukkan pada kejujuran yang sejujur – jujurnya.
Bentuk dan ruang
Dalam arsitektur post modern bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (hubungan sebab–akibat) keduanya menjadi dua komponen yang mandiri, berdiri sendiri–sendiri, merdeka, sehingga bisa dihubungkan ataupun tidak
Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang. Ciri pokok dari bentuk adalah ‘ada dan nyata atau terlihat atau teraba’, sedangkan ruang memiliki ciri khas ‘ada dan tak terlihat atau tidak nyata’. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.
Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur:
- Arsitektur purna modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan dari pada ruang.
- Arsitektur neo modern sebaliknya bertolak belakang, menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan.
- Arsitektur dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.
D. Pengaruh arsitektur modern terhadap arsitektur post modern
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa arsitektur post modern ada karena keber-adaan dari arsitektur modern. Dan arsitektur post modern merupakan arsitektur yang telah melakukan feed back atau umpan balik terhadap arsitektur modern. Sehingga mau tidak mau arsitektur modern mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap arsitektur post modern (baik itu dari ciri–ciri ideologi, gaya, desain, dan lain–lain). Terutama arsitektur neo modern yang merupakan penyempurnaan dari arsitektur modern terhadap segi estetik dalam arsitektur modern sehingga ada kesulitan dalam membedakan arsitektur modern dengan arsitektur neo modern. Arsitektur neo modern bisa juga disebut arsitektur modern Karena ciri–ciri yang ada tidak ditolak atau dibuang.

Apabila kita membandingkan tampilan arsitektur barat pada awal kehadiran arsitektur modern dengan arsitektur post modern (purna modern, neo modern, dekonstruksi) maka kita akan menemukan keserupaan–keserupaan yang cukup mencolok. Keserupaan–keserupaan ini merupakan alat untuk mempermudah memahami arsitektur post modern yang sulit untuk di-mengerti. Pengaruh arsitektur modern terhadap arsitektur post modern antara lain dapat dili-hat dari segi:
1. Teknologi
Teknologi yang ada di dalam arsitektur post modern merupakan hasil pengembangan dari teknologi arsitektur modern. Terutama pada teknologi bahan bangunan dimana bahan–bahan yang muncul atau ditemukan pada masa arsitektur modern digunakan oleh arsitektur post modern. Tapi dengan ciri tampilan yang lain, dengan dibawa ke dalam titik ekstrim dari karakter bahan. Misalnya aluminium dan titanium di pakai karena daya pantulnya menyi-laukan sehingga orang menganggap tidak ada. Karena tidak bisa dilihat sehingga tidak menimbulkan suatu keseragaman seperti pada arsitektur modern, tetapi menampilkan ciri–ciri penampilan individual (beraneka ragam).
2. Bentuk dasar
Bentuk dasar pada arsitektur modern adalah bentuk–bentuk geometri (platonic solid) bentukan ini digunakan juga pada arsitektur post modern, hanya saja pada arsitektur post modern bentuk–bentuk ini diberi tambahan unsur estetis. Misalnya pada arsitektur purna modern dengan menambahkan langgam–langgam lama yang telah ditransformasikan dan ditempelkan ke arsitektur modern sehingga menjadi suatu kesatuan (arsitektur yang mem-punyai nilai estetik). Lain halnya dengan arsitektur purna modern, arsitektur neo modern memberikan tambahan berupa bentuk–bentuk yang biomorphik sehingga bentuk dasar tanpa memberikan tempelan langgam–langgam lama, sehingga dapat menimbulkan keindahan pada arsitektur tersebut.

E. Daftar Pustaka
Cerfer, Francisco Asencio., Architecture 1, European master – 3, Ediciones S. A., 1991
Gossel, peter., Gabriele Leu Thauser, Achitecture in the 20th century, Taschen, 1991.
Klotz, Heinrich., History of Post Modern Architecture, The MIT Press, Cambridge, 1984.
Sulaiman, Johnson., dkk, Arsitektur Post modern, UKP.
Tendean, Daniel., dkk, Arsitektur Post modern, UKP.
Bahan kuliah Sejarah dan Teori Arsitektur AR. Joseph.